Selasa, 31 Juli 2012

Ye Shiwen tepis doping


London –RENANG INDONESIA - Perenang muda asal China Ye Shiwen menepis isu yang menuduh dirinya memakai doping (obat penambah stamina) setelah media massa Inggris mencurigai pemecahan rekor Ye lpada Olimpiade 2012.

Ye memang mematahkan rekor Stephanie Rice pada pertandingan renang medley (renang dengan berbagai gaya) 400 meter individual. Tak hanya itu, Ye juga membuat rekor dengan mengarungi lap terakhir bahkan lebih cepat dari peraih emas di nomor renang putra asal Amreika, Ryan Lochte dan Michael Phelps.

"Gila. Maksud saya, tentu saja saya tidak melihatnya, saya jauh berada di belakangnya, jadi saya tidak melihatnya. Tapi ketika ia memutar (berbalik) itu di luar kontrol, bahkan saya rasa ia lebih cepat dari semua orang, tapi tidak lebih cepat dari Phelps," komentar Rice.

Dengan rekor tersebut, Ye juga mengalahkan rekor waktu yang ia buat saat kejuaraan dunia tahun lalu, yakni lebih cepat tujuh detik.

Tak hanya itu, Ye juga menunjukkan kecepatannya pada nomor 200 meter medley. Waktu Ye lebih cepat dua setengah detik dari seluruh waktu yang ditempuh atlet renang lainnya sepanjang tahun ini.

Namun perenang muda asal Zhejiang, China yang memulai karier sebagai atlet profesional dengan memenangi gelar juara dunia pada nomor 200 meter medley tersebut mengungkapkan ia tidak memakai doping.

"Tidak ada masalah dengan doping. Tim China punya peraturan tegas soal itu, jadi sebenarnya tidak ada masalah," ungkap Ye.

Ye menjadi buah bibir setelah salah satu harian terkemuka Inggris menyudutkan penampilan cemerlangnya. Harian tersebut bahkan merujuk pada penyediaan doping oleh pemerintah yang pernah dilakukan China pada 1980-an dan 1990-an.

"Rekor waktu Ye dalam nomor bebas hampir tak bisa dipercaya," tulis The Times dalam berita utama mereka. Dalam berita tersebut The Times juga menulis soal Li Zhesi, atlet China yang berusia 16 tahun. Li gagal tampil pada olimpiade karena terbukti mengonsumsi obat pemacu aliran darah EPO. Dan Li adalah teman berlatih Ye.

"Dunia renang di China punya sejarah memalukan terkait doping, dan pencapaian apapun yang didapat oleh atlet mereka sangat dekat dengan kritik dan sinisme," tulis Daily Telegraph, seperti dikutip dari AFP. (ANTARA News)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar