Kamis, 20 Januari 2011

Perlukah Atlet Puasa Seks Sebelum Bertanding?

MAJALAH RENANG INDONESIA. Sejak zaman Yunani kuno para atlet sudah memegang teguh konsep puasa bercinta sebelum bertanding. Gagasan ini berawal dari mitos yang menyebutkan hubungan seks akan mengurangi level hormon testosteron sehingga ditakutkan atlet kurang agresif saat menghadapi lawan.

Filsuf besar Plato adalah orang pertama yang mencuatkan mitos ini ketika menuliskan tentang juara Olimpiade Ikkos of Tarentum. Menurut literatur, Ikkos menyiapkan diri menghadapi pertandingan Olimpiade ke 84 di tahun 444 SM dengan menyantap babi hutan dalam porsi besar, keju dan daging kambing, serta menghindari aktivitas seksual. Ia khawatir hubungan seksual akan mengurangi kekuatannya.

Menurut artikel yang dimuat dalam Newsweek, orang-orang Roma tidak setuju dengan gagasan orang Yunani itu. Tahun 77 Masehi Pliny the Elder, penulis besar Romawi, menulis bahwa semangat yang mulai melempem bisa dikobarkan kembali dengan berhubungan seksual. Sejak itu, konsep seks akan mengurangi performa mulai ditinggalkan para atlet.

Pada awal tahun 1900, petinju legendaris Rocky Marciano menyatakan puasa bercinta selama sebulan sebelum pertandingan. Marciano adalah petinju kelas berat yang pensiun dengan rekor belum pernah dikalahkan.

Pada pertengahan abad ke-20, Muhammad Ali juga mengakui ia puasa bercinta dua bulan sebelum naik ring. Petinju legendaris itu mengatakan absen dari hubungan seks membuatnya lebih tenang dan tidak mudah dikalahkan. Ali merupakan petinju legendaris dengan rekor yang belum terpatahkan menang 56 kali dengan 37 KO dari 61 pertandingan.

Mengikuti jejak para seniornya, baru-baru ini petinju Manny Pacquiao juga menyebutkan ia terpaksa "pisah ranjang" dengan istrinya selama menyiapkan diri dalam laga besar. Ia baru menemui istrinya dalam kunjungan tertentu dan tentu saja ia menahan diri dengan tidak melakukan aktivitas seksual.

Tidak terbukti 
Selama berabad-abad para atlet mematuhi pakem puasa bercinta ini demi penampilan terbaiknya saat berlaga. Bukan cuma petinju, para atlet dari cabang olahraga lain seperti American Footbaal dan sepakbola juga mengikutinya.

Ian Shrier, ahli kedokteran olahraga dari McGill University menyebutkan ada dua alasan mengapa para atlet rela menjauhi seks sebelum pertandingan. Pertama, hubungan seks dianggap bisa membuat atlet kehabisan tenaga dan kelelahan ketika bertanding. Mitos ini ternyata tidak terbukti.

Kedua, aktivitas seksual pada malam sebelum bertanding memengaruhi cara pandang seseorang. Namun belum diketahui kebenaran dari alasan kedua ini. "Aktivitas seksual sebelum kompetisi sebenarnya tidak memengaruhi kekuatan, keseimbangan, ketahanan atau kecepatan reaksi seorang atlet," kata Shrier.

Saluran televisi olahraga ESPN pernah melakukan riset mengenai hal ini. Mereka menguji atlet gulat pria dan wanita untuk mengetahui ketahanan kardiovaskular serta kekuatan tubuh bagian atas dan bawah menggunakan alat sensor yang didesain oleh United States Boxing Association.

Para pegulat itu diminta untuk tidak bercinta sehari sebelum melakukan serangkaian tes. Kemudian sehari setelahnya mereka diperbolehkan berintim-intim dengan pasangannya kemudian dites ulang.  Hasil penelitian menunjukkan secara fisik, kadar testosteron pegulat pria dan wanita tetap tinggi meski mereka sudah berhubungan seks.

Tommy Boone, psikolog olahraga juga mengatakan tidak ada landasan ilmiah yang mendukung mitos absen bercinta akan meningkatkan performa. Dalam penelitiannya tahun 1995 terhadap 11 atlet yang melakukan tes treadmill, tidak ada perbedaan performa pada atlet yang absen bercinta 12 jam sebelum tes dengan atlet yang melakukan hubungan seks.

"Memang ada perubahan fisik ketika berhubungan seks, yakni naiknya detak jantung dari 70 bpm menjadi 130 bpm. Namun dibandingkan dengan pengerahan tenaga saat pertandingan bola, tenaga yang dikeluarkan saat bercinta tidak akan berpengaruh banyak, kurang dari 25 persen," kata penulis buku Sex Before Athletic Competition: Myth or Fact ini.

Para ilmuwan juga menemukan bahwa terlalu lama absen bercinta justru bisa menurunkan kadar testosteron. Lagi pula kalori yang dikeluarkan ketika berhubungan seks setara dengan naik tangga dua lantai sehingga dianggap tidak ada pengaruhnya.

Para ahli juga mengatakan bahwa yang dibutuhkan atlet sebelum pertandingan adalah cukup istirahat dan menghindari stres agar fokus pada laga yang akan dihadapi. Jadi bila hubungan seks bisa membuat seseorang atlet tidur nyenyak, maka mengapa harus dihindari?

Sumber: askmen/kompas.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar