Jumat, 21 Januari 2011

Delapan Cabor Terancam Pindah


MAJALAH RENANG INDONESIA. Gerak lambat yang ditunjukkan panitia lokal Sumatera Selatan (Sumsel) dalam pembangunan venue SEA Games 2011 menuai banyak kecaman. Tak hanya itu, nasib delapan cabor (cabang olahraga) yang sebelumnya bakal dipertandingkan di Sumsel juga terancam pindah ke Jakarta. Cabor-cabor itu di antaranya bisbol, sofbol, tenis, panjat tebing, atletik, serta renang. Hingga kini, venue delapan cabor tersebut belum juga tuntas dikerjakan oleh panitia lokal Sumsel. “Kalau memang tidak bisa, akan dipindahkan ke Jakarta. Ini demi Merah Putih,” terang Djoko Pramono, deputi I INASOC (Indonesia SEA Games Organization Committee), saat ditemui di ruang kerjanya kemarin (21/1).INASOC pun akhirnya memberi deadline kepada Sumsel untuk segera merampungkan pembangunan venue tersebut. Mereka mendesak agar Sumsel bisa memberi jaminan kepastian pada 1 April mendatang.

“Kalau memang tidak bisa, semua rencana akan kami ubah. Kami harus gerak cepat lagi,” tegas Djoko.Dia mengungkapkan, belum adanya jaminan penyelesaian venue oleh Sumsel membuat banyak pihak kelimpungan. Di antaranya terkait dengan surat keputusan (SK) pembagian venue. Hingga saat ini, SK tersebut belum juga bisa diterbitkan oleh pemerintah.
Tak hanya itu, wajah Indonesia juga bakal tercoreng saat technical delegate mendatang. Ini dikarenakan dalam acara yang digeber di Bali itu, delegasi-delegasi dari negara peserta SEA Games bakal berkunjung ke Indonesia. Selain menghadiri rapat, mereka tentu akan melihat kesiapan Sumsel dan Jakarta untuk mempersiapkan venue pertandingan. 

“Saya kan harus menjelaskan tentang semua yang saat ini terjadi. Ya kami memang harus siap kalau ada negara yang mengkritik. Karena ini INASOC sangat ingin agar venue tersebut bisa selesai dengan cepat,” tambah pria yang juga menjabat sebagai ketum PB Porlasi tersebut. Djoko menambahkan, sebenarnya, sejak Oktober 2010 lalu Inasoc sudah menyarankan agar pemerintah membuat red plan. Yakni, rencana cadangan jika stratgei yang sudah disusun ternyata tak berjalan seperti yang diharapkan. Namun, rupanya pemerintah terkesima dengan pemaparan Sumsel yang menyatakan sangat siap untuk menyelesaikan pembangian venue tepat waktu. “Kalau sekarang, red plan tersebut sangat berguna. Red plan itu bukan alternatif, tapi memang harus ada,” ungkap Djoko. (ru/pontianak post)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar