Minggu, 15 Januari 2012

Sekolah SMP/SMU Negeri Ragunan: Cikal Bakal Atlet Nasional

Berdirinya SMP dan SMU Negeri Ragunan merupakan solusi dalam menghadapi kendala pembinaan atlit. Banyak pimpinan sekolah tidak memberikan toleransi terhadap atlit nasional yang akan memasuki pemusatan latihan, maupun berpartisipasi dalam kejuaraan di berbagai cabang olahraga.
      Sejak berdiri, SMP dan SMU Negeri Ragunan telah membuktikan banyak atlit nasional yang berprestasi tinggi yang telah mereka hasilkan berjaya mengangkat harkat dan martabat bangsa di mata dunia. Kenyataan ini membuahkan hasil dalam pembinaan atlit dan menjadi contoh bagi negera-negara tetangga, yang belakangan menjadi pesaing yang serius.
      Meski sekolah ini tetap eksis dengan jumlah atlit yang tetap dan sarana prasarana yang tidak bertambah. Sementara, negara-negara tetangga yang sebelumnya mencontoh pada sekolah Ragunan, kini telah berkembang semakin maju. Atlit Ragunan kini tak lagi menjadi atlit terkuat bahkan untuk cabang-cabang tertentu mereka dapat dikalahkan oleh atlit-atlit perkumpulan lainnya. Dan memang tidak semua atlit terbaik otomatis menjadi atlit Ragunan.  Buktinya, atlit Ragunan hanya mampu meraup 7 emas diantara 151 medali emas yang diperebutkan dalam Kejurnas KU 2007 di Surabaya. Ada apa ?
     
Asal usul
      Adalah Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin yang memiliki gagasan untuk mendirikan sekolah yang selain memperhatikan pengajaran pendidikan, juga pembinaan prestasi sekolah. Gagasan ini mendapat sambutan positif dari Menteri Pendidikan dan kebudayaan Sarif Thayeb dan Ketua Umum KONI Pusat D.Prayogi. Maka berdirilah sekolah atlit berprestasi pada cabang-cabang olahraga masing-masing dari seluruh Indonesia dengan nama SLTP/SMU Negeri Ragunan Jakarta yang berlokasi di daerah Ragunan, Jakarta Selatan, pada 15 Januari 1977.
      Seluruh siswa SLPT/SMU diasramakan untuk memudahkan peningkatan latihan dan belajar atau sekolah. Demikian pula semua guru yang mengajar menempati rumah dinas untuk mempermudah proses pendidikan dan belajar dengan siswa. Sedangkan untuk pelatih disediakan asrama sesuai cabang olahraga masing-masing. Sekolah ini melibatkan empat lembaga pemerintah yang duduk sebagai Badan Pembina dalam struktur organisasi Pemusatan dan Pelatihan Olahragawan Pelajar Nasional SLTP/SMU Negeri Ragunan, antara lain: Menteri Pemuda dan Olahraga, Menteri Pendidikan Nasional, Ketua Umum KONI Pusat, dan Gubernur DKI Jakarta.
      Sekolah Ragunan didirikan dengan tujuan untuk menghasilkan olahragawan Nasional yang mempunyai semangat sebagai seorang warganegara Pancasilais dengan prestasi yang optimal, baik nasional maupun internasional serta memiliki kepribadian dan semangat olahragawan sejati. Adapun visinya adalah meningkatkan prestasi olahraga sampai titik optimal, meningkatkan prestasi akademik maksimal, dan meningkatkan disiplin di sekolah, asrama dan di lapangan.

Pembinaan Olahraga
      Di tanah air terdapat empat jenjang dalam pembinaan olahraga pelajar. Jenjang pertama terdapat di sekolah dengan siswa sekitar 35 juta jiwa dibawah bimbingan 70 ribu guru pendidikan jasmani. Kegiatan olahraga pelajar disalurkan melalui pertandingan antar sekolah.
      Sejak 1997, pemerintah melaksanakan pembinaan dan pengembangan olaharaga di SD. Sistim pembinaan berbasis pada gugus sekolah dengan SD sebagai pusat kegiatan. Pada tahap awal, setiap provinsi menetapkan satu kabupaten kota binaan yang di dalamnya terdapat 3 kecamatan. Setiap kecamatan terdapat tiga gugus SD atau klub olahraga. Dengan demikian, Jumlah klub olahraga pelajar diseluruh Indonesia kini telah mencapai 1.998 klub olahraga SD. Setiap tahun diselenggarakan lomba atau pertandingan olahraga siswa sekolah dasar tingkat nasional.
      Pada tahun 2007 akan diselenggarakan pada Agustus dengan pusat kegiatan di Sekolah Ragunan. Cabang olahraga yang akan dipertandingan berjumlah 13 cabang dengan peserta 1.386 atlit dari 33 provinsi, dan setiap provinsi mengirim 42 atlit. Lomba ini akan diselenggarakan pada 7 – 14 Agustus 2007. Juara pertama putra dan putri setiap cabang olahraga, berhak mengikuti kegiatan kenegaraan memperingati HUT ke-62 proklamasi Kemerdekaan RI pada 15 – 18 Agustus 2007.
      Selain klub olahraga pelajar, terdapat pula Pusat Pembinaan dan Latihan pelajar (PPLP), Kelas Olahraga, Latihan Prestasi Olahraga Pelajar  di setiap provinsi. Ajang uji kemampuannya disalurkan melalui Pekan Olahraga Pelajar Wilayah dan Daerah (POPWIL dan POPDA).
      Sementara SLTP/SMU Ragunan yang berjumlah 135 atlit akan pulang ke daerah masing-masing dan membela daerahnya. Mereka akan saling bertarung dalam kejuaraan Asia, POP Asia, POP Nasional (POPNAS), dan Pekan Olahraga Nasional (PON). Menurut rencana, pada Juli 2007, POPNAS akan diselenggarakan di Kalimantan Timur, sedangkan POMNAS (mahasiswa) diselenggarakan di Kalimantan Selatan.
      Jadi SLTP/SMU Negeri Ragunan sebetulnya adalah sekolah nasional milik daerah.

Syarat menjadi siswa Sekolah Ragunan
      Atlit merupakan subjek sekaligus objek dalam pembinaan prestasi yang dilakukan di SLTP/SMU Ragunan, baik prestasi olahraga maupun akademik. Sejak awal rekrutmen, seseorang yang hendak menjadi siswa SLTP/SMU Ragunan adalah calon atlit berbakat dan memiliki potensi akademik yang seimbang. Hal ini ditunjukkan melalui peran dan aktivitas yang ditampilkan melalui kejuaraan bertaraf nasional, sesuai karakteristik cabang olahraga. Ketentuan ini dituangkan dalam persyaratan tertulis.
      Untuk menjadi siswa sekolah Ragunan syaratnya adalah memiliki prestasi minimal tingkat daerah sesuai kelompok umurnya, memiliki kemampuan dan potensi akademik yang cukup baik, mendapat rekomendasi dari pengurus daerah atau pengurus besar induk cabang olahraga, memiliki kemampuan fisik dan antropometri tubuh ideal seorang atlit, dan memiliki motivasi diri untuk meningkatkan prestasi.

Sarana dan prasarana
      Sarana dan prasarana merupakan faktor penting untuk melahirkan sumber daya pelatih, guru, dan atlit yang berkualitas. Prestasi olahraga akan meningkat secara progresif jika didukung oleh sarana dan prasarana yang mutakhir. Sarana yang mutahir tentunya mampu memenuhi kebutuhan ideal dari segi kualitas dan kuantitas. Penanggung jawab bidang sarana dan prasarana dibebankan pada Pemda DKI Jakarta.
      Sayangnya, sarana dan prasarana ini tidak pernah bertambah sejak 1977, pemeliharaannya pun tidak maksimal, akibatnya beberapa bagian kondisi fisiknya mulai memprihatinkan.
     
Dana
      Pendanaan merupakan faktor penting untuk menunjang proses pembinaan dan peningkatan prestasi atlit untuk menjamin terlaksananya semua kegiatan yang telah direncanakan. Pendanaan Sekolah Ragunan bersumber dari Departemen Pendidikan Nasional atas rekomendasi Kementerian Pemuda dan Olahraga. KONI Pusat, dan Pemda DKI Jakarta.
      Dengan dana yang sangat minim, hanya cukup untuk mendukung kegiatan operasional rutin, tentu saja sulit mengharapkan prestasi baik dari sekolah ini. Bandingkan negara-negara tetangga, seperti Singapura, Thailand, dan Malaysia. Mereka mengeluarkan anggaran besar untuk membangun fasilitas sekolah olahraga.
      Jika di Indonesia sekolah olahraga hanya terdapat di tiga kota dengan fasilitas ala kadarnya, sementara negara-negara tetangga membangun sekolah olahraga di berbagai daerah untuk melapis atlit-atlit utama mereka.
      Dari kunjungan beberapa pengurus PB PRSI ke Singapura dan Thailand beberapa waktu lalu, mereka mendapatkan kenyataan bahwa sarana prasarana yang didukung oleh dana yang besar, telah memperlebar jarak antara Indonesia dengan negara tetangga.
      Oleh sebab itu, Sekolah Ragunan tidak cukup hanya sekedar eksis tapi juga harus dikembalikan martabatnya, melalui peningkatan sarana dan prasarana. Serta sektor penunjang lainnya, termasuk kesejahteraan guru dan pelatihnya. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar