Sabtu, 14 September 2013

Renang Indonesia: Berprestasi di tengah tantangan

RENANG. Hampir seperempat abad yang lalu, olahraga renang identik dengan keluarga Nasution.
Putri-putri sang pelatih Radja Nasution yaitu Elvira Rosa, Elsa Manora, Maya Masita, Kevin Rose serta si bungsu Akbar Nasution mendominasi kolam renang.

Tapi masa keemasan mereka telah berlalu. Elvira Rosa kini menetap di California, AS, dan melatih renang bersama suaminya yang juga mantan perenang Gerald Item.
Sedangkan Kevin dan Akbar kini membantu sang papa melatih klub renang Pari Sakti.
Lantas siapa perenang potensial Indonesia masa depan? Salah satu atlet andalan Indonesia saat ini adalah Ricky Anggawijaya.
"Ricky berasal dari salah satu klub di Bandung, Jawa Barat. Usianya baru 17 tahun tapi sangat berbakat dan sudah beberapa kali merebut gelar juara," kata Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi Persatuan Renang Seluruh Indonesia (PRSI), Heru Purwanto, dalam wawancara dengan BBC Indonesia.
Nomor andalan Ricky adalah gaya punggung dan renang jarak jauh di perairan terbuka. "Ia sangat fleksibel, bisa masuk ke gaya dan nomor apa saja dan itu juga salah satu kelebihan dia," tutur Heru.
Selain Ricky, atlet andalan lainnya adalah Indra Gunawan. Ia terbilang atlet senior karena usianya telah mencapai 25 tahun.
"Meski umumnya usia 25 itu sudah masuk usia terbilang senja kalau di olahraga, tapi itu bukan jaminan juga karena kita ingat Richard Sambera yang berprestasi di usia 30an," kata Heru.
Ia menambahkan bahwa Richard adalah karakter atlet yang sangat disiplin. "Dari jadwal latihan, jam tidur hingga pola makan Richard itu luar biasa disiplinnya."
Kasus doping

Meski termasuk perenang nasional andalan, bulan Juli lalu, dunia olahraga Indonesia dikejutkan dengan kabar kasus doping yang menimpa Indra dan rekannya Guntur Pratama Putra di ajang Asian Indoors and Martial Arts Games in Incheon, Korea Selatan.
Mereka dinyatakan positif menggunakan doping berjenis zat Methylhexaneamine yang masuk melalui suplemen, yang mereka gunakan sebelum berlomba.
Investigasi menemukan bahwa keduanya tidak mengetahui bahwa suplemen makanan yang mereka konsumsi mengandung zat terlarang tersebut.
Tapi apa mau di kata, nasi telah menjadi bubur. Gelar juara dan medali dari nomor 50 meter gaya dada yang diraih Indra terpaksa dicabut dan keduanya menerima hukuman berupa 

larangan bertanding selama tiga bulan mulai 13 Agustus 2013 oleh Dewan Anti Doping Indonesia.
Insiden itu membuat publik terhenyak tapi di sisi lain masyarakat kembali memusatkan perhatian pada perkembangan olahraga renang di Indonesia.
Heru Purwanto mengatakan peristiwa itu menjadi pelajaran mahal bagi PRSI.
"Kami berusaha melakukan sosialisasi dan semacam penyuluhan semaksimal mungkin untuk mengedukasi para atlet mengenai pentingnya mengetahui zat apa saja yang terlarang, suplemen apa yang boleh dikonsumsi atau harus dihindari dan juga konsekuensi jika mereka tidak memperhatikannya," kata Heru.
PRSI berusaha bangkit dari keterpurukan dengan melakukan persiapan menghadapi SEA Games bulan Desember mendatang di Myanmar yang menargetkan enam medali emas.

Saat saya menanyakan tentang persiapan, Heru mengatakan sesi latihan sangat ketat dan penuh disiplin meski menghadapi keterbatasan.
Ia mengakui PRSI menghadapi kendala termasuk kurangnya sarana kolam untuk latihan.
"Sulit bagi kita untuk latihan benar di tempat yang sarananya memadai dan sesuai standar, karena di Senayan kita berebut dengan dengan klub-klub renang yang ada di Jakarta sehingga 

waktu kita terbatas dan tidak bisa maksimal," tuturnya.
"Kita terpaksa berlatih di kolam sebuah hotel di Cikini, Jakarta, itu lumayan tapi kan kolamnya belum dapat sertifikasi standar internasional," tambahnya.
Ia menyayangkan kurangnya perawatan yang dilakukan pemerintah terhadap sarana yang sebenarnya bagus dan masih baru tapi sudah terbengkalai.
"Di Pekanbaru, Riau dan juga di Stadion Jakabaring di Palembang punya kolam yang bagus tapi waktu kami latihan di sana, anak-anak mengeluh mereka gatal-gatal jadi airnya tidak bersih, ini yang menurut kami tidak mendukung," kata Heru.
"Kita sering membangun tapi tak bisa merawat. Sarana PON di Kaltim itu bagus tapi baru satu tahun airnya sudah hijau berlumut jadi kita perlu pembelajaran bagaimana menjadi venue manager untuk menyikapi langkanya sarana di Jakarta," kata dia.
Diam-diam berprestasi
Namun tantangan-tantangan itu tidak menyurutkan semangat PRSI yang juga membawahi cabang polo air, renang perairan terbuka, renang indah dan loncat indah untuk mengejar prestasi.
"Semua cabang olahraga saya yakin menghadapi tantangan yang kurang lebih sama dan kami harus berusaha menjaga semangat anak-anak. Salah satu contohnya waktu Menpora Roy Suryo bilang tak akan ada bonus untuk SEA Games tahun ini, memang ada beberapa atlet yang kecewa tapi mayoritas tidak terpengaruh," kata Heru.
Ia juga mengupayakan agar semua cabang olahraga akuatik mendapat perhatian yang sama.
"Polo air misalnya, diam-diam menghanyutkan dan berprestasi karena sudah mencetak prestasi sebagai tim terbaik di Asia Tenggara dan sudah mengikuti kejuaraan dunia dua kali," tambahnya.
Tim polo air Indonesia dibentuk pada 2005 dan pada 2011 lolos kualifikasi kejuaraan dunia di Italia serta 2012 di Australia.
"Kita berhasil meraih peringkat ke-13 dari 16 negara di Australia dan kita satu-satunya tim polo air dari Asia Tenggara yang tampil di Kejuaraan Dunia," kata Heru.
Dengan bibit potensial seperti Ricky dan gemilang prestasi di polo air, apakah cabang renang Indonesia berada di masa terbaiknya?
"Belum, masih banyak yang harus dilakukan, masih banyak yang harus dibenahi tapi semangat yang ada saat ini kami usahakan jangan sampai pudar," tutup Heru.(BBC)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar