Minggu, 30 Desember 2012

KRAPSI 2012: ESG Bandung Juara Umum

Triadi Fauzi (Aquarius Bandung)

BANDUNG, RENANG INDONESIA - Tuan rumah ESG Bandung keluar sebagai juara umum kejuaraan renang antar perkumpulan se Indonesia (KRAPSI), Minggu (30/2).

ESG Bandung keluar sebagai juara umum dengan mengumpulkan 2223 poin, diikuti Petrokimia Gresik Jawa Timur (1939 poin), Aquarius Bandung (850 poin), Milenium Aquatic Jakarta (831 poin) dan Bali Pari Badung (654 poin).

KRAPSI yang berlangsung di kolam renang Bumi Siliwangi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) ini diikuti sekitar 1000 atlet dari 159 perkumpulan renang se Indonesia.

Meski ditandai dengan kontroversi soal alat penghitung waktu, serta suhu kolam yang dianggap tidak memenuhi standar (dingin) serta jadwal lomba yang  mepet, KRAPSI XXXIV/2012 ini berjalan lancar.  Jumlah atlet peserta juga dapat dibatasi dengan diberlakukannya denda cukup besar (Rp100 ribu) buat atlet yang tak dapat menembus limit.

Acara penutupan, Minggu (30/2) berlangsung cukup meriah dengan pesta kembang api dan penyerahan penghargaan buat para atlet terbaik.

Atlet terbaik:
KU IV:
Pa: Carlston Sung (ESG Bandung)
Pi: Sofie Kemala (TS Bengkulu)

KU III:
Pa: Bima Cahya (DLP Jember)
Pi: GM Tessalonika Ervence (TM Bandung)

KU II:
Pa: Ilham Ahmad (PRMD Jakarta)
Pi: Sagita Putri Kris D (DZD Jateng)

KU I:
Pa: Ricky Anggawijaya (ESG Bandung)
Pi: Ressa Kania Dewi (TM Bandung)

Senior:
Pa: Triady Fauzi (AQR Bandung)
Pi: Esther Anokio (TM Jayapura)

(Kompas.com )

KRAPSI 2012:Panitia Jelaskan Soal Kontroversi Waktu


BANDUNG, RENANG INDONESIA - PemberitaanKompas.com mengenai KRAPSI 34 Bandung mendapat tanggapan dari panitia pelaksana.

Panitia pelaksana menyebut ada beberapa perbedaan pandangan antara sumber dariKompas.com dengan fakta dari pihak panitia pelaksana.

Perbedaan yang terjadi adalah soal pandangan mengenai penghitungan dengan menggunakan alat penghitung waktu manual yang digunakan peserta mau pun pelatih dengan alat penghitung elektronik yang digunakan panitia pelaksana.

Menurut technical delegate KRAPSI yang juga wakil ketua bidang pembinaan PRSI, Suroyo, pihak panitia sudah berusaha maksimal dengan menggunakan alat pencatat waktu elektronik yang mereka sewa dari Surabaya.

"Sebenarnya kami sudah mengusahakan untuk meminjam dari Riau, yang bekas digunakan PB PON lalu, namun alat tersebut akan digunakan untuk Islamic Solidarity Games, Juni mendatang," kata Suroyo.

Akhirnya panitia menggunakan  pencatat waktu elektonik namun tidak menggunakan scoring boardyang dapat langsung memperlihatkan hasil penghitungan alat  tersebut. "Kalau menggunakan alat tersebut secara lengkap kami harus menyewa dari perusahaan swasta dan biayanya sangat mahal," lanjut Suroyo.

Tiadanya papan penunjuk hasil (scoring board) ini lah  yang kemudian menimbulkan kontroversi soal hasil perlombaan yang berlangsung. "Kalau ada papan hasil kan langsung kelihatan hasil lomba saat itu juga. Jadi memperkecil keraguan," kata sumber Kompas.com.

Sebagai perbandingan alat serupa selalu digunakan untuk event seperti kejurnas dan PON atau Popnas Riau lalu. Di Jakarta, untuk event-event kompetisi sekolah asing seperti Jakarta International School atau pun British International School, penggunaan penghitung elektronik dan papan hasil elektronik sudah merupakan keharusan.

Perbedaan hasil antara penghitungan secara manual dan elektronik inilah yang menimbulkan masalah di KRAPSI 2012 ini. Sumber Kompas.com mengatakan hasil yang muncul di alat pencatat waktu manual lebih cepat daripada hasil dengan pencatat waktu elektronis.

Menurut Suroyo perbedaan tersebut bisa terjadi karena pencatatan waktu yang dilakukan oleh orang tua atau pun pelatih bisa tidak akurat karena alat yang digunakan, jarak atau posisi saat menghitung atau skill.

Menurut Suroyo pula, semua masalah sebenarnya sudah dipaparkan saat technical meeting antar para manajer perkumpulan renang peserta pada Rabu (26/12) lalu.  "Kami sudah menjelaskan semua hal di sana, termasuk juga soal suhu kolam yang disebutkan tidak memenuhi standar FINA," ungkapnya.

Sumber Kompas.com memang mengatakan suhu kolam renang di Bumi Siliwangi, UPI, Bandung ini pada sore hari mencapai 19-20 derajat. Sementara suhu standar  FINA untuk kolam kompetitif adalah 25-28 derajat celcius.

"Suhu kolam berdasar termometer adalah pagi cerah pukul 7.30 adalah 25 derajat celcius. Sementara siang hari pukul 11.15 mencapai 25.5 derajat celcius," kata Suroyo lagi yang telah berkecimpung di kolam renang nasional lebih dari 25 tahun.

Keluhan mengenai suhu kolam yang lebih dingin memang disampaikan untuk sesi II, pukul 15-18.00. Ini diakui oleh Suroyo.  "Suhu memang akan menjadi lebih dingin saat turun hujan," ungkap Suroyo.

Pada dua hari pertama KRAPSI ke 34 (27-28 Desember) hujan memang turun lebat di kolam renang Bumi Siliwangi, UPI, Bandung antara pukul 15-17. Sementara pada hari ketiga (29 Desember) hujan hanya turun sebentar sekitar pukul 16.00 hingga 17.00.

Suroyo memang mengakui tingkat ketertarikan media untuk event renang nasional -bahkan internasional- di tanah air memang merosot.  Padahal  dukungan media merupakan salah satu faktor penting untuk proses pembinaan atlet renang.

"Seperti KRAPSI ini merupakan jang evaluasi pembinaan bagi seluruh perkumpulan renang di Indonesia yang merupakan ujung tombak pembinaan," katanya. "Karena itu memang perlu kerjasama yang baik antara manajemen perkumpulan, pelatih, penjurian serta media," lanjutnya.

KRAPSI 34 dengan penyelenggara ESG Bandung berakhir Minggu (30/12) dengan tuan rumah kemungkinan besar menjadi juara umum. (Kompas.com)

Sabtu, 29 Desember 2012

KRAPSI 2012: Siman Catat Dua Rekor Baru KRAPSI


BANDUNG, RENANG INDONESIA - Perenang nasional Gede Siman Sudartawa mencatat dua rekor KRAPSI baru dalam kejuaraan yang berlangsung di Bandung, Sabtu (29/12).

Siman yang turun atas nama klub Milenium Akuatik Lumba-luma Riau ini mencetak rekor KRAPSI baru di nomor 200 meter gaya punggung serta 50 meter gaya kupu-kupu.

Di nomor 200 meter gaya punggung, Siman mencatat waktu 2 menit 10.29 detik. Namun torehan rekor KRAPSI baru ini masih jauh di bawah rekornas atas nama Siman sendiri yaitu 2 menit 2.44 detik.

Di ajang KRAPSI yang berlangsung di  kolam renang Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung ini, para perenang dari klub penyelanggara ESG Bandung masih mendominasi.

Hingga jari ketiga, ESG masih memimpin dengan 749 poin, diikuti Petrokimia Gresik, Aquarius Bandung, Milenium Aquatic Jakarta yang menggeser Tirta Merta Bandung.

Hingga hari ketiga ini, keluhan juga masih terjadi di kalangan atlet peserta terutama menyangkut selisih waktu yang tercatat.

Banyak atlet peserta mau pun pelatih klub peserta mengeluh tentang waktu hasil lomba berdasar pencatat waktu elektronik dengan menggunakan touch-pad yang ternyata lebih buruk daripada penghitung waktu manual.

Selisih waktu yang tercatat ini menjadi masalah untuk para atlet yang terpaksa membayar denda sebesar Rp100 ribu karena tidak menembus  limit KRAPSI.

"Anak saya mencatat perbedaan  atau selisih waktu yang cukup banyak antara yang saya catat menggunakan stopwatch dengan pencatat waktu elektronik yang digunakan di kolam. Namun selisih ini membuat saya harus membayar denda," kata ibu seorang atlet asal Bekasi,  Jawa barat.

Tiadanya scoring board yang menunjukkan hasil lomba secara seketika memang mengecewakan banyak atlet peserta mau pun penonton. Selain hasilnya terasa meragukan, namun terutama justru mengurangi  serunya persaingan antarperenang. Penonton jadi sulit mengetahui siapa pemenang, apalagi apabila terjadi persaingan ketat dengan perbedaan waktu yang sangat tipis. KRAPSI ke 34 di Bandung akan berakhir Minggu (30/12).

(Kompas.com )

Pelatnas di Australia Berlangsung 10 Bulan


BANDUNG, RENANG INDONESIA - Pelatih kepala nasional, Hartadi Nurjojo mengatakan rencana persiapan atlket renang nasional di Perth, Australia masih terkendala beberapa hal.

"Ada atlet yang meminta ijin untuk menyelesaikan pendidikan menengahnya pada Maret 2013.  Sementara ada beberapa atlet yang mengaku sulit berpisah dengan keluarga atau takut tidak cocok dengan pola latihan di sana," kata Hartadi di Bandung, Kamis (28/12).

Menurut Hartadi, para atlet tim bayangan SEA Games di Myanmar pada bulan Desember akan berangkat ke Australia pada Januari mendatang. "Mereka akan berlatih selama 10 bulan hingga menjelang berlangsungnya SEA Games," kata Hartadi.

Dalam jangka waktu sepuluh bulan tersebut, para pelatih akan kembali ke Indonesia hanya untuk perlombaan uji coba. "Mereka bisa kembali ke Indonesia di luar uji coba hanya bila ada keadaan mendesak," ungkap Hartadi.

Dengan kondisi ini, para atlet renang yang akan diberangkatkan untuk berlatih di Australia dapat saja  berubah tergantung pada keputusan PP PRSI. "Yang pasti berangkat itu tiga putri: Monaliza, Raina Saumi dan Yessy Yosaputra," ungkap Hartadi.

Sementara itu di ajang Kejuaraan Renang Antar Perkumpulan se Indonesia (KRAPSI) ke 34 di kolam renang UPI, Bandung, tuan rumah ESG Bandung masih menunjukkan dominasinya.

Hingga hari kedua, Jumat (28/12), para perenang ESG masih di posisi teratas diikuti Petrokimia Gresik, Aquarius Bandung, Tirta Merta Bandung, Bali Pari Badung, Milenium Aquatic Jakarta di posisi enam besar dari 159 perkumpulan renang peserta.

Hari kedua masih ditandai dengan adanya keluhan peserta berkaitan dengan  suhu air kolam yang terlalu dingin (19-20 derajat) dan jauh di bawah standar FINA (25-28 derajat celicius). Suhu dingin ini sangat menguras stamina  dan konsentrasi atlet terutama untuk nomor-nomor menengah dan jarak jauh.

Keluhan lain juga dialamatkan pada penggunaan papan elektronik yang dianggap tidak maksimal.  Penggunaan touch pad dianggap tidak  maksimal karena tidak didukung dengan adanya papan skor yang langsung memperlihatkan hasil lomba.

Namun pelatih kepala nasional Hartadi Nurjojo menganggap semua kekurangan ini sebagai hal yang harus bisa ditoleransi. "Semoga saja atlet-atlet tersebut bisa mengatasi semua kekurangan yang ada dan berlomba dengan maksimal," katanya. (Kompas.com )

Jumat, 28 Desember 2012

KRAPSI 2012: SIMAN DAN YESSI DOMINASI 100M PUNGGUNG


RENANG INDONESIA - Perenang nasional I Gede Siman dan Yessi V Yossaputra mendominasi sekaligus meraih medali emas nomor 100 meter gaya punggung pada Kejuaraan Renang Antar Perkumpulan Seluruh Indonesia (KRAPSI) di Kolam Renang UPI Bandung, Jumat.

Selain itu perenang Pelatnas itu juga mempertajam rekor KRAPSI yang juga banyak terpecahkan dalam kejuaraan yang berlangsung sejak Kamis (27/12) itu.

I Gede Siman yang memperkuat tim MAL Pekanbatu mencatat waktu terbaik untuk nomor 100 meter gaya punggung putra dengan catatan waktu 56.88 detik memecahkan rekor KRAPSI 01.05.86. Peringkat kedua dan ketiga diraih perenang Bandung Ricky Anggawijaya (ESG) dan Samuel Preston (BAS Bandung).

Sedangkan di kelompok putri, Yessy V Yossaputra meraih emas 100 meter gaya punggung putri yang menjadi spesialisasinya. Yessi mencatat waktu 01.06.96 sekaligus menembus limit waktu KRAPSI 01.15.30.

Pemecahan rekor KRAPSI juga dilakukan oleh Ricky Anggawijaya pada nomor 400 meter gaya bebas putra dengan catatan waktu 04.03.98 atau lebih baik dari 04.46.39.

Sukses Ricky membayar kegagalannya pada final nomor 100 meter gaya punggung dimana harus menyerah dari seniornya I Gede Siman.

"Senang bisa melampaui limit waktu KRAPSI, namun saya berharap bisa memecahkan rekor nasional," kata Ricky yang merupakan perenang masa depan Jabar itu.

Pada nomor 400 meter gaya bebas putri, Raina Saumi dari ESG Bandung berhasil menjadi yang terbaik dengan waktu 04.31.19, disusul perenang dari AQR Bandung, Monalisa (04.31.73) dan peringkat tiga diraih Iffy Nadya dari CLS Malang, Jatim (04.35.96).

Sementara itu perenangn ESG Bandung, Satrio Bagaskara meraih medali emas 100 meter gaya kupu-kupu putra dengan catatan waktu 00.58.85 menyisihkan Putra Randa (DKI) dan Dimans Adrianto (PMTS Medan) yang harus puas di peringkat kedua dan ketiga.

Di bagian putri nomor 100m gaya kupu putra, di nomor 100 meter Monaliza dari AQR Bandung berhasil menjadi yang terbaik dengan waktu 01.04.52 dan berhasil memecahkan rekor KRAPSI dengan limit waktu 01.12.56. peringkat kedua dan ketiga diraih Raina Saumi dan Yessika KH PKG Gresik.

Sementara itu Pelatih ESG Bandung, Nizarudin menyatakan timnya berusaha untuk meraih juara umum sekaligus mempertahankan untuk keempat kalinya setelah meraih gelar terhormat itu pada 2009, 2010 dan 2011.

"Misi ESG mempertahankan juara umum sekaligus memperbaiki setiap catatan waktu di partai final. Perjalanan tim saat ini sudah di jalur sesuai target," kata Nizarudin. (ANTARAJAWABARAT, com,)

KRAPSI 2012: Suhu Dingin Sulitkan Atlet Tampil Maksimal


BANDUNG, RENANG INDONESIA - Penyelenggaraan KRAPSI ke 34 di Bandung berjalan tertib dan lancar namun para atlet mengaku kesulitan tampil maksimal.

Panitia penyelanggara kejuaraan yang berlangsung 27-30 Desember 2012 di kolam renang Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) ini memang cukup kesulitan mengatur peserta yang mencapai lebih dari 1000 orang tersebut.

Panitia yang berasal dari klub ESG Bandung ini membagi jadwal lomba dalam dua termin besar. Untuk para perenang kelompok umur III dan IV (15 tahun ke bawah), perlombaan berlangsung pukul 08.00-13.00. Sementara untuk KU I, II dan senior yang jumlahnya lebih sedikit, lomba berlangsung pukul 14.00 sampai selesai.

Dengan pembagian waktu seperti ini, panitia mampu menghindari kejadian seperti KRAPSI ke 29/2007 di tempat yang sama. Saat itu, para atlet renang usia dini (di bawah 15 tahun) banyak yang mengalami pingsan karena harus berlomba hingga pukul 21.00 saat suhu air kolam mencapai 18 derajat celcius.

Soal suhu air kolam yang dingin ini ternyata juga masih menjadi ganjalan di KRAPSI kali ini. Lokasi kolam renang UPI yang terletak di jalan Setiabudi, menuju arah Lembang memang cukup dingin, bahkan suhu air kolam dapat mencapai di bawah 20 derajat celcius.

Suhu air kolam yang dingin ini, ditambah angin pegunungan yang keras membuat para atlet kesulitan tampil maksimal. "Air yang dingin menyulitkan  gerak  otot secara maksimal.  Sementara suhu dingin dan udara tipis juga menyulitkan nafas," kata Felix C. Sutanto dari  PR Millenium Aquatic jakarta.

Menurut ketua umum Pengprov PRSI DKI Jakarta yang juga mantan atlet renang nasional,  Lukman Niode, suhu air kolam yang merupakan standar FINA adalahj 25-28 derajat celcius.  "Hasil atau rekor kejuaraan tetap diakui, namun kalau untuk ukuran nasional -apalagi  regional atau internasional, butuh prasyarat yang lebih berat," kata Lukman atau Luki.

Syarat itu antara lain, suhu air kolam, panjang kolam serta jumlah lintasan. Dalam KRAPSI  32/2012 kali ini, setiap heat atau seri memperlombakan 10 atlet untuk sekaligus bersaing.  Padahal standar FINA menyebut  hanya 8 peserta untuk setiap seri atau heat, dengan dua lintasan  dikosongkan. Ini untuk menghindarkan gelombang air yang akan merugikan atlet  yang berada di lintasan pinggir.

Pemisahan acara untuk kelompok umur III-IV dan I-II dan senior ini juga berisiko atlet harus berlomba dalam waktu berdekatan. Waktu pemulihan buat atlet menjadi lebih singkat sebelum dia harus turun pada nomor berikutnya.

Meski begitu, hari pertama KRAPSI 34, Kamis (27/12) ditandai terciptanya beberapa rekor KRAPSI baru seperti yang dicatat oleh atlet renang nasional Raina Saumi.

Hari pertama juga ditandai dengan asbennya atlet renang asal klub ESG Bandung, Eliza Delanira. Meski tercatat dalam buku acara, Eliza ternyata tidak diturunkan oleh klubnya. Atlet ini sempat dipermasalahkan karena turun memperkuat klub Jakarta saat penyelenggaraan Kejuaraan renang Antar Perkumpulan Daerah (KRAPDA) DKI, 7-9 Desember 2012 lalu dengan menggunakan nama Delanira E.

KRAPSI ke 34 akan berlangsung hingga Minggu (30/12).

Sumber:Kompas.com 

KRAPSI 2012: Sekitar 1000 Perenang Ikut Berlomba


BANDUNG, RENANG INDONESIA - Kejuaraan Renang Antarperkumpulan se Indonesia (KRAPSI) ke 34 akan bergulir di Bandung, 27 hingga 30 Desember 2012.

Kejuaraan yang akan berlangsung di kolam renang Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung ini akan diikuti perenang-perenang terbaik perkumpulan renang seluruh Indonesia.

Ajang ini dianggap penting karena merupakan seleksi penentuan peringkat nasional mau pun daerah ini. KRAPSI ke 34 ini akan diikuti para atlet renang nasional seperti I Gde Siman Sudartawa mau pun para atlet renang asal Jawa Barat Ressa Kania Dewi dan Yossy Yosaputera.

Ketua panitia perlombaan, Iman Firmansyah menyebut jumlah peserta yang melampaui angka 1000 sangat  mengejutkan mengingat tahun ini panitia memberlakukan sistem denda untuk mereka yang gagal melewati batas limit waktu. " Bila gagal, Anda mendapat denda sebsar Rp100 ribu."

Dalam acara temu manajer di Isola Hotel, Bandung, Rabu (26/12) Herlambang dari  PB PRSI menyebut kejuaraan seharusnya tidak sekadar menekankan pada kuantitas peserta dan mengabaikan faktor kualitas.

"Sebentar lagi kita akan menghadapi SEA Games Laos pada Desember mendatang," kata Herlambang. "Kami dari PB PRSI berharap para pembina dari luar Jawa dapat menyumbangkan sejumlah perenang yunior untuk dibina." (Kompas.com )