Minggu, 30 Desember 2012

KRAPSI 2012: ESG Bandung Juara Umum

Triadi Fauzi (Aquarius Bandung)

BANDUNG, RENANG INDONESIA - Tuan rumah ESG Bandung keluar sebagai juara umum kejuaraan renang antar perkumpulan se Indonesia (KRAPSI), Minggu (30/2).

ESG Bandung keluar sebagai juara umum dengan mengumpulkan 2223 poin, diikuti Petrokimia Gresik Jawa Timur (1939 poin), Aquarius Bandung (850 poin), Milenium Aquatic Jakarta (831 poin) dan Bali Pari Badung (654 poin).

KRAPSI yang berlangsung di kolam renang Bumi Siliwangi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) ini diikuti sekitar 1000 atlet dari 159 perkumpulan renang se Indonesia.

Meski ditandai dengan kontroversi soal alat penghitung waktu, serta suhu kolam yang dianggap tidak memenuhi standar (dingin) serta jadwal lomba yang  mepet, KRAPSI XXXIV/2012 ini berjalan lancar.  Jumlah atlet peserta juga dapat dibatasi dengan diberlakukannya denda cukup besar (Rp100 ribu) buat atlet yang tak dapat menembus limit.

Acara penutupan, Minggu (30/2) berlangsung cukup meriah dengan pesta kembang api dan penyerahan penghargaan buat para atlet terbaik.

Atlet terbaik:
KU IV:
Pa: Carlston Sung (ESG Bandung)
Pi: Sofie Kemala (TS Bengkulu)

KU III:
Pa: Bima Cahya (DLP Jember)
Pi: GM Tessalonika Ervence (TM Bandung)

KU II:
Pa: Ilham Ahmad (PRMD Jakarta)
Pi: Sagita Putri Kris D (DZD Jateng)

KU I:
Pa: Ricky Anggawijaya (ESG Bandung)
Pi: Ressa Kania Dewi (TM Bandung)

Senior:
Pa: Triady Fauzi (AQR Bandung)
Pi: Esther Anokio (TM Jayapura)

(Kompas.com )

KRAPSI 2012:Panitia Jelaskan Soal Kontroversi Waktu


BANDUNG, RENANG INDONESIA - PemberitaanKompas.com mengenai KRAPSI 34 Bandung mendapat tanggapan dari panitia pelaksana.

Panitia pelaksana menyebut ada beberapa perbedaan pandangan antara sumber dariKompas.com dengan fakta dari pihak panitia pelaksana.

Perbedaan yang terjadi adalah soal pandangan mengenai penghitungan dengan menggunakan alat penghitung waktu manual yang digunakan peserta mau pun pelatih dengan alat penghitung elektronik yang digunakan panitia pelaksana.

Menurut technical delegate KRAPSI yang juga wakil ketua bidang pembinaan PRSI, Suroyo, pihak panitia sudah berusaha maksimal dengan menggunakan alat pencatat waktu elektronik yang mereka sewa dari Surabaya.

"Sebenarnya kami sudah mengusahakan untuk meminjam dari Riau, yang bekas digunakan PB PON lalu, namun alat tersebut akan digunakan untuk Islamic Solidarity Games, Juni mendatang," kata Suroyo.

Akhirnya panitia menggunakan  pencatat waktu elektonik namun tidak menggunakan scoring boardyang dapat langsung memperlihatkan hasil penghitungan alat  tersebut. "Kalau menggunakan alat tersebut secara lengkap kami harus menyewa dari perusahaan swasta dan biayanya sangat mahal," lanjut Suroyo.

Tiadanya papan penunjuk hasil (scoring board) ini lah  yang kemudian menimbulkan kontroversi soal hasil perlombaan yang berlangsung. "Kalau ada papan hasil kan langsung kelihatan hasil lomba saat itu juga. Jadi memperkecil keraguan," kata sumber Kompas.com.

Sebagai perbandingan alat serupa selalu digunakan untuk event seperti kejurnas dan PON atau Popnas Riau lalu. Di Jakarta, untuk event-event kompetisi sekolah asing seperti Jakarta International School atau pun British International School, penggunaan penghitung elektronik dan papan hasil elektronik sudah merupakan keharusan.

Perbedaan hasil antara penghitungan secara manual dan elektronik inilah yang menimbulkan masalah di KRAPSI 2012 ini. Sumber Kompas.com mengatakan hasil yang muncul di alat pencatat waktu manual lebih cepat daripada hasil dengan pencatat waktu elektronis.

Menurut Suroyo perbedaan tersebut bisa terjadi karena pencatatan waktu yang dilakukan oleh orang tua atau pun pelatih bisa tidak akurat karena alat yang digunakan, jarak atau posisi saat menghitung atau skill.

Menurut Suroyo pula, semua masalah sebenarnya sudah dipaparkan saat technical meeting antar para manajer perkumpulan renang peserta pada Rabu (26/12) lalu.  "Kami sudah menjelaskan semua hal di sana, termasuk juga soal suhu kolam yang disebutkan tidak memenuhi standar FINA," ungkapnya.

Sumber Kompas.com memang mengatakan suhu kolam renang di Bumi Siliwangi, UPI, Bandung ini pada sore hari mencapai 19-20 derajat. Sementara suhu standar  FINA untuk kolam kompetitif adalah 25-28 derajat celcius.

"Suhu kolam berdasar termometer adalah pagi cerah pukul 7.30 adalah 25 derajat celcius. Sementara siang hari pukul 11.15 mencapai 25.5 derajat celcius," kata Suroyo lagi yang telah berkecimpung di kolam renang nasional lebih dari 25 tahun.

Keluhan mengenai suhu kolam yang lebih dingin memang disampaikan untuk sesi II, pukul 15-18.00. Ini diakui oleh Suroyo.  "Suhu memang akan menjadi lebih dingin saat turun hujan," ungkap Suroyo.

Pada dua hari pertama KRAPSI ke 34 (27-28 Desember) hujan memang turun lebat di kolam renang Bumi Siliwangi, UPI, Bandung antara pukul 15-17. Sementara pada hari ketiga (29 Desember) hujan hanya turun sebentar sekitar pukul 16.00 hingga 17.00.

Suroyo memang mengakui tingkat ketertarikan media untuk event renang nasional -bahkan internasional- di tanah air memang merosot.  Padahal  dukungan media merupakan salah satu faktor penting untuk proses pembinaan atlet renang.

"Seperti KRAPSI ini merupakan jang evaluasi pembinaan bagi seluruh perkumpulan renang di Indonesia yang merupakan ujung tombak pembinaan," katanya. "Karena itu memang perlu kerjasama yang baik antara manajemen perkumpulan, pelatih, penjurian serta media," lanjutnya.

KRAPSI 34 dengan penyelenggara ESG Bandung berakhir Minggu (30/12) dengan tuan rumah kemungkinan besar menjadi juara umum. (Kompas.com)

Sabtu, 29 Desember 2012

KRAPSI 2012: Siman Catat Dua Rekor Baru KRAPSI


BANDUNG, RENANG INDONESIA - Perenang nasional Gede Siman Sudartawa mencatat dua rekor KRAPSI baru dalam kejuaraan yang berlangsung di Bandung, Sabtu (29/12).

Siman yang turun atas nama klub Milenium Akuatik Lumba-luma Riau ini mencetak rekor KRAPSI baru di nomor 200 meter gaya punggung serta 50 meter gaya kupu-kupu.

Di nomor 200 meter gaya punggung, Siman mencatat waktu 2 menit 10.29 detik. Namun torehan rekor KRAPSI baru ini masih jauh di bawah rekornas atas nama Siman sendiri yaitu 2 menit 2.44 detik.

Di ajang KRAPSI yang berlangsung di  kolam renang Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung ini, para perenang dari klub penyelanggara ESG Bandung masih mendominasi.

Hingga jari ketiga, ESG masih memimpin dengan 749 poin, diikuti Petrokimia Gresik, Aquarius Bandung, Milenium Aquatic Jakarta yang menggeser Tirta Merta Bandung.

Hingga hari ketiga ini, keluhan juga masih terjadi di kalangan atlet peserta terutama menyangkut selisih waktu yang tercatat.

Banyak atlet peserta mau pun pelatih klub peserta mengeluh tentang waktu hasil lomba berdasar pencatat waktu elektronik dengan menggunakan touch-pad yang ternyata lebih buruk daripada penghitung waktu manual.

Selisih waktu yang tercatat ini menjadi masalah untuk para atlet yang terpaksa membayar denda sebesar Rp100 ribu karena tidak menembus  limit KRAPSI.

"Anak saya mencatat perbedaan  atau selisih waktu yang cukup banyak antara yang saya catat menggunakan stopwatch dengan pencatat waktu elektronik yang digunakan di kolam. Namun selisih ini membuat saya harus membayar denda," kata ibu seorang atlet asal Bekasi,  Jawa barat.

Tiadanya scoring board yang menunjukkan hasil lomba secara seketika memang mengecewakan banyak atlet peserta mau pun penonton. Selain hasilnya terasa meragukan, namun terutama justru mengurangi  serunya persaingan antarperenang. Penonton jadi sulit mengetahui siapa pemenang, apalagi apabila terjadi persaingan ketat dengan perbedaan waktu yang sangat tipis. KRAPSI ke 34 di Bandung akan berakhir Minggu (30/12).

(Kompas.com )

Pelatnas di Australia Berlangsung 10 Bulan


BANDUNG, RENANG INDONESIA - Pelatih kepala nasional, Hartadi Nurjojo mengatakan rencana persiapan atlket renang nasional di Perth, Australia masih terkendala beberapa hal.

"Ada atlet yang meminta ijin untuk menyelesaikan pendidikan menengahnya pada Maret 2013.  Sementara ada beberapa atlet yang mengaku sulit berpisah dengan keluarga atau takut tidak cocok dengan pola latihan di sana," kata Hartadi di Bandung, Kamis (28/12).

Menurut Hartadi, para atlet tim bayangan SEA Games di Myanmar pada bulan Desember akan berangkat ke Australia pada Januari mendatang. "Mereka akan berlatih selama 10 bulan hingga menjelang berlangsungnya SEA Games," kata Hartadi.

Dalam jangka waktu sepuluh bulan tersebut, para pelatih akan kembali ke Indonesia hanya untuk perlombaan uji coba. "Mereka bisa kembali ke Indonesia di luar uji coba hanya bila ada keadaan mendesak," ungkap Hartadi.

Dengan kondisi ini, para atlet renang yang akan diberangkatkan untuk berlatih di Australia dapat saja  berubah tergantung pada keputusan PP PRSI. "Yang pasti berangkat itu tiga putri: Monaliza, Raina Saumi dan Yessy Yosaputra," ungkap Hartadi.

Sementara itu di ajang Kejuaraan Renang Antar Perkumpulan se Indonesia (KRAPSI) ke 34 di kolam renang UPI, Bandung, tuan rumah ESG Bandung masih menunjukkan dominasinya.

Hingga hari kedua, Jumat (28/12), para perenang ESG masih di posisi teratas diikuti Petrokimia Gresik, Aquarius Bandung, Tirta Merta Bandung, Bali Pari Badung, Milenium Aquatic Jakarta di posisi enam besar dari 159 perkumpulan renang peserta.

Hari kedua masih ditandai dengan adanya keluhan peserta berkaitan dengan  suhu air kolam yang terlalu dingin (19-20 derajat) dan jauh di bawah standar FINA (25-28 derajat celicius). Suhu dingin ini sangat menguras stamina  dan konsentrasi atlet terutama untuk nomor-nomor menengah dan jarak jauh.

Keluhan lain juga dialamatkan pada penggunaan papan elektronik yang dianggap tidak maksimal.  Penggunaan touch pad dianggap tidak  maksimal karena tidak didukung dengan adanya papan skor yang langsung memperlihatkan hasil lomba.

Namun pelatih kepala nasional Hartadi Nurjojo menganggap semua kekurangan ini sebagai hal yang harus bisa ditoleransi. "Semoga saja atlet-atlet tersebut bisa mengatasi semua kekurangan yang ada dan berlomba dengan maksimal," katanya. (Kompas.com )

Jumat, 28 Desember 2012

KRAPSI 2012: SIMAN DAN YESSI DOMINASI 100M PUNGGUNG


RENANG INDONESIA - Perenang nasional I Gede Siman dan Yessi V Yossaputra mendominasi sekaligus meraih medali emas nomor 100 meter gaya punggung pada Kejuaraan Renang Antar Perkumpulan Seluruh Indonesia (KRAPSI) di Kolam Renang UPI Bandung, Jumat.

Selain itu perenang Pelatnas itu juga mempertajam rekor KRAPSI yang juga banyak terpecahkan dalam kejuaraan yang berlangsung sejak Kamis (27/12) itu.

I Gede Siman yang memperkuat tim MAL Pekanbatu mencatat waktu terbaik untuk nomor 100 meter gaya punggung putra dengan catatan waktu 56.88 detik memecahkan rekor KRAPSI 01.05.86. Peringkat kedua dan ketiga diraih perenang Bandung Ricky Anggawijaya (ESG) dan Samuel Preston (BAS Bandung).

Sedangkan di kelompok putri, Yessy V Yossaputra meraih emas 100 meter gaya punggung putri yang menjadi spesialisasinya. Yessi mencatat waktu 01.06.96 sekaligus menembus limit waktu KRAPSI 01.15.30.

Pemecahan rekor KRAPSI juga dilakukan oleh Ricky Anggawijaya pada nomor 400 meter gaya bebas putra dengan catatan waktu 04.03.98 atau lebih baik dari 04.46.39.

Sukses Ricky membayar kegagalannya pada final nomor 100 meter gaya punggung dimana harus menyerah dari seniornya I Gede Siman.

"Senang bisa melampaui limit waktu KRAPSI, namun saya berharap bisa memecahkan rekor nasional," kata Ricky yang merupakan perenang masa depan Jabar itu.

Pada nomor 400 meter gaya bebas putri, Raina Saumi dari ESG Bandung berhasil menjadi yang terbaik dengan waktu 04.31.19, disusul perenang dari AQR Bandung, Monalisa (04.31.73) dan peringkat tiga diraih Iffy Nadya dari CLS Malang, Jatim (04.35.96).

Sementara itu perenangn ESG Bandung, Satrio Bagaskara meraih medali emas 100 meter gaya kupu-kupu putra dengan catatan waktu 00.58.85 menyisihkan Putra Randa (DKI) dan Dimans Adrianto (PMTS Medan) yang harus puas di peringkat kedua dan ketiga.

Di bagian putri nomor 100m gaya kupu putra, di nomor 100 meter Monaliza dari AQR Bandung berhasil menjadi yang terbaik dengan waktu 01.04.52 dan berhasil memecahkan rekor KRAPSI dengan limit waktu 01.12.56. peringkat kedua dan ketiga diraih Raina Saumi dan Yessika KH PKG Gresik.

Sementara itu Pelatih ESG Bandung, Nizarudin menyatakan timnya berusaha untuk meraih juara umum sekaligus mempertahankan untuk keempat kalinya setelah meraih gelar terhormat itu pada 2009, 2010 dan 2011.

"Misi ESG mempertahankan juara umum sekaligus memperbaiki setiap catatan waktu di partai final. Perjalanan tim saat ini sudah di jalur sesuai target," kata Nizarudin. (ANTARAJAWABARAT, com,)

KRAPSI 2012: Suhu Dingin Sulitkan Atlet Tampil Maksimal


BANDUNG, RENANG INDONESIA - Penyelenggaraan KRAPSI ke 34 di Bandung berjalan tertib dan lancar namun para atlet mengaku kesulitan tampil maksimal.

Panitia penyelanggara kejuaraan yang berlangsung 27-30 Desember 2012 di kolam renang Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) ini memang cukup kesulitan mengatur peserta yang mencapai lebih dari 1000 orang tersebut.

Panitia yang berasal dari klub ESG Bandung ini membagi jadwal lomba dalam dua termin besar. Untuk para perenang kelompok umur III dan IV (15 tahun ke bawah), perlombaan berlangsung pukul 08.00-13.00. Sementara untuk KU I, II dan senior yang jumlahnya lebih sedikit, lomba berlangsung pukul 14.00 sampai selesai.

Dengan pembagian waktu seperti ini, panitia mampu menghindari kejadian seperti KRAPSI ke 29/2007 di tempat yang sama. Saat itu, para atlet renang usia dini (di bawah 15 tahun) banyak yang mengalami pingsan karena harus berlomba hingga pukul 21.00 saat suhu air kolam mencapai 18 derajat celcius.

Soal suhu air kolam yang dingin ini ternyata juga masih menjadi ganjalan di KRAPSI kali ini. Lokasi kolam renang UPI yang terletak di jalan Setiabudi, menuju arah Lembang memang cukup dingin, bahkan suhu air kolam dapat mencapai di bawah 20 derajat celcius.

Suhu air kolam yang dingin ini, ditambah angin pegunungan yang keras membuat para atlet kesulitan tampil maksimal. "Air yang dingin menyulitkan  gerak  otot secara maksimal.  Sementara suhu dingin dan udara tipis juga menyulitkan nafas," kata Felix C. Sutanto dari  PR Millenium Aquatic jakarta.

Menurut ketua umum Pengprov PRSI DKI Jakarta yang juga mantan atlet renang nasional,  Lukman Niode, suhu air kolam yang merupakan standar FINA adalahj 25-28 derajat celcius.  "Hasil atau rekor kejuaraan tetap diakui, namun kalau untuk ukuran nasional -apalagi  regional atau internasional, butuh prasyarat yang lebih berat," kata Lukman atau Luki.

Syarat itu antara lain, suhu air kolam, panjang kolam serta jumlah lintasan. Dalam KRAPSI  32/2012 kali ini, setiap heat atau seri memperlombakan 10 atlet untuk sekaligus bersaing.  Padahal standar FINA menyebut  hanya 8 peserta untuk setiap seri atau heat, dengan dua lintasan  dikosongkan. Ini untuk menghindarkan gelombang air yang akan merugikan atlet  yang berada di lintasan pinggir.

Pemisahan acara untuk kelompok umur III-IV dan I-II dan senior ini juga berisiko atlet harus berlomba dalam waktu berdekatan. Waktu pemulihan buat atlet menjadi lebih singkat sebelum dia harus turun pada nomor berikutnya.

Meski begitu, hari pertama KRAPSI 34, Kamis (27/12) ditandai terciptanya beberapa rekor KRAPSI baru seperti yang dicatat oleh atlet renang nasional Raina Saumi.

Hari pertama juga ditandai dengan asbennya atlet renang asal klub ESG Bandung, Eliza Delanira. Meski tercatat dalam buku acara, Eliza ternyata tidak diturunkan oleh klubnya. Atlet ini sempat dipermasalahkan karena turun memperkuat klub Jakarta saat penyelenggaraan Kejuaraan renang Antar Perkumpulan Daerah (KRAPDA) DKI, 7-9 Desember 2012 lalu dengan menggunakan nama Delanira E.

KRAPSI ke 34 akan berlangsung hingga Minggu (30/12).

Sumber:Kompas.com 

KRAPSI 2012: Sekitar 1000 Perenang Ikut Berlomba


BANDUNG, RENANG INDONESIA - Kejuaraan Renang Antarperkumpulan se Indonesia (KRAPSI) ke 34 akan bergulir di Bandung, 27 hingga 30 Desember 2012.

Kejuaraan yang akan berlangsung di kolam renang Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung ini akan diikuti perenang-perenang terbaik perkumpulan renang seluruh Indonesia.

Ajang ini dianggap penting karena merupakan seleksi penentuan peringkat nasional mau pun daerah ini. KRAPSI ke 34 ini akan diikuti para atlet renang nasional seperti I Gde Siman Sudartawa mau pun para atlet renang asal Jawa Barat Ressa Kania Dewi dan Yossy Yosaputera.

Ketua panitia perlombaan, Iman Firmansyah menyebut jumlah peserta yang melampaui angka 1000 sangat  mengejutkan mengingat tahun ini panitia memberlakukan sistem denda untuk mereka yang gagal melewati batas limit waktu. " Bila gagal, Anda mendapat denda sebsar Rp100 ribu."

Dalam acara temu manajer di Isola Hotel, Bandung, Rabu (26/12) Herlambang dari  PB PRSI menyebut kejuaraan seharusnya tidak sekadar menekankan pada kuantitas peserta dan mengabaikan faktor kualitas.

"Sebentar lagi kita akan menghadapi SEA Games Laos pada Desember mendatang," kata Herlambang. "Kami dari PB PRSI berharap para pembina dari luar Jawa dapat menyumbangkan sejumlah perenang yunior untuk dibina." (Kompas.com )

Rabu, 26 Desember 2012

KRAPSI 2012: Pak Jokowi, Lindungi Anak-anak Ini...


BANDUNG, RENANG INDONESIA — Para atlet renang muda Jakarta tidak hanya mengalami beban kota besar, tetapi juga kurang mendapat perlindungan.

Akhir Desember selalu menjadi puncak kompetisi renang Indoensia dengan digelarnya Kejuaraan Renang Antar-Perkumpulan Se-Indonesia (KRAPSI). Ajang ini mempertemukan atlet-atlet renang terbaik perkumpulan renang se-Indonesia.

Tahun ini, KRAPSI diadakan di Kolam Renang Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung, 27-30 Desember 2012. Bagi PRSI Jawa Barat, ajang ini sekaligus juga menjadi uji coba karena mereka akan menjadi tuan rumah Pekan Olahraga Nasional (PON) 2016 mendatang.

Tidak tanggung-tanggung, panitia pelaksana menjanjikan mesin pemanas kolam untuk mencapai suhu air sesuai standar Federasi Renang Internasional, yaitu 25 derajat celsius. Panitia juga menjanjikan akan menggunakan alat penghitung elektronik untuk menghindarkan kontroversi selisih waktu.

Ajang KRAPSI memang ajang penting buat penentuan peringkat atlet renang, baik secara nasional maupun provinsi. Baik buruknya hasil di KRAPSI dapat menentukan seorang perenang terpental dari persaingan.

Hal serupa dirasakan pula para perenang asal Provinsi DKI Jakarta. Seusai PON XVIII/Riau, September lalu, atlet renang DKI "dicekam" dengan isu masuknya atlet-atlet renang asal provinsi luar. Mereka mengincar posisi masuk dalam Pelatda DKI dan berkesempatan membela provinsi tersebut di ajang-ajang kompetisi nasional.

Ajang Kejuaraan Renang Antar-Perkumpulan Daerah (Krapda) DKI, awal Desember lalu, menimbulkan fenomena yang mengkhawatirkan atlet, pelatih, dan orang tua. Atlet-atlet renang asal provinsi lain ikut berlomba tanpa mengikuti prosedur atau tata cara kepindahan yang ada.

Fenomena atau kejanggalan itu antara lain berupa perubahan identitas atlet yang berbeda dengan provinsi asalnya, seperti yang dilakukan oleh atlet renang Eliza Delanira yang berasal dari Bandung, Jawa Barat. Dalam Krapda DKI lalu, ia turun atas nama Delanira E atas nama sebuah perkumpulan renang Jakarta.

Padahal, penentuan perpindahan atlet cukup jelas. Tiga bulan untuk perpindahan antarklub dalam provinsi dan tiga bulan untuk antarklub antarprovinsi.

Penentuan waktu perpindahan ini ditentukan untuk menghargai  keberadaan perkumpulan renang sebagai institusi pembina.  Adanya waktu 3 hingga 6 bulan ini  juga untuk menghindari fenomena "kutu loncat" ketika para perenang berpindah-pindah klub dalam waktu singkat.

Dalam beberapa kasus, perubahan identitas atlet untuk jangka panjang justru merugikan si atlet, seperti  kasus yang menimpa Bayu Fiendra, 14, atlet layar asal Batam, Kepulauan Riau, yang membela DKI Jakarta di PON XVIII/Riau lalu.

Selama PON, Bayu bertanding dengan menggunakan nama Prastio Bayu Nugroho dan meraih medali perunggu sekaligus berhak atas bonus Rp 35 juta. Namun, di piagam penghargaan PON tertulis nama aslinya, Bayu Fiendra, sesuai nama yang ia sebut ketika ditanya oleh panitia pelaksana PON. Akibat perbedaan nama ini, administrasi pemberian bonus jadi  terhambat. (Kompas, Minggu, 9 Desember).

Ketidakjelasan inilah yang dihadapi para atlet renang DKI saat ini. Mungkin memang perlu campur tangan Pak Gubernur  untuk memperjelas hal ini untuk masa depan mereka. Dalam hal disiplin, para atlet muda ini jelas lebih baik dari oknum aparat pemerintah.  Mereka memulai aktivitas keseharian mereka dengan berlatih renang pukul 04.30 sebelum menghadapi macet dan beban sekolah, tanpa terlambat pula. Sementara pada awal pelantikannya sebagai Gubernur DKI, Pak Jokowi kerap menemukan anak buahnya yang belum datang ke kantor pada pukul 08.00 pagi. (KOMPAS.com )

USA NEWS: MICHAEL PHELPS NAMED ASSOCIATED PRESS MALE ATHLETE OF THE YEAR


PHOENIX, Arizona, RENANG INDONESIA. MICHAEL Phelps has been named the Male Athlete of the Year by The Associated Press, continuing a year of accolades that include the titles Greatest Olympian of All Time andSwimming World Magazine World Male Athlete of the Year.

Perhaps the news comes as no great shock to the swimming community at large, given his monumental feats not only in 2012, but over a 12-year elite competitive career. It's his second time he's been honored with Male Athlete of the Year by the AP amidst a legendary group of athletes, having first won the award back in 2008. Though the results of voting in 2008 were likely close to a landslide, given that Phelps had just achieved the miraculous with eight gold medals in Beijing, it was not that easy in 2012.

Phelps, 27, received 40 votes for the award by AP's American editors and broadcasters, just barely beating out basketball star LeBron James, who got 37 votes. Runner Usain Bolt, who jockeyed with Phelps for media attention at the Olympics, was third with 23 votes. 

The name of the 2012 female athlete of the year has not yet been announced. Swimming could have a few names in the running with Olympic champions Missy Franklin, Katie Ledecky and Allison Schmitt likely to have impressed AP voters this year.

Carl Lewis was the only other Olympic athlete to win twice. Those who have received the honor more than twice are likely resting easy, knowing that Phelps announced his retirement. Tiger Woods and Lance Armstrong received the award four times, while Michael Jordan won three.

"Obviously, it's a big accomplishment," Phelps told AP's Paul Newberry today. "There's so many amazing male athletes all over the world and all over our country. To be able to win this is something that just sort of tops off my career."

Below are some of the landmark accomplishments Phelps achieved just this year:

Six medals at the London Olympics, four of which were gold;

Furthered his reign as the most-decorated Olympian with 22 total medals, and secured his spot as the winningest Olympian with 18 golds, equal to the most medals of any color won by anyone in history;

The first male to win the same individual event at the Olympics three consecutive times, doing it twice in the 200 individual medley and 100 butterfly;

The first male to win the same event at three consecutive Olympics, doing it three times in the 200 freestyle, 200 butterfly and 200 individual medley.

Phelps is part of a rich tradition of swimmers to win AP Athlete of the Year. Among the men, Don Schollander was the first after his four gold medals in 1964, followed by Mark Spitz in 1972 after his 7-for-7 haul in Munich. Among the women, Helene Madison was the first recipient of the female honor in 1931, followed by Katherine Rawls in 1937. Gloria Callen in 1942 and Ann Curtis in 1944 kept the tradition going. In 1962, Dawn Fraser won the award and Debbie Meyers earned the honor in 1969. Amy van Dyken was the last swimmer not named "Phelps" to win the award, which she did following her amazing performances at the 1996 Olympics.

Phelps continues to enjoy retirement, according to The Associated Press. He's in Mexico with golf coach Hank Haney, working on his game and filming segments for the upcoming season of "The Haney Project" on the Golf Channel. (swimmingworld)

Selasa, 25 Desember 2012

Lewat Renang Lanjut ke America


JAKARTA, RENANG INDONESIA - Prestasi yang baik dan landasan pendidikan yang kuat membawa perenang nasional Patricia Yosita Hapsari mendapat beasiswa pendidikan ke Amerika Serikat.

Cerita tentang mantan atlet Indonesia yang hidup terlunta di masa pensiun sebagai atlet atau masa tuanya bukan hal yang baru. Sebagian besar telah jadi eksploitasi menarik buat media. Penyebabnya pun sudah jelas, pendidikan yang terbengkalai, baik karena beratnya sistem latihan, atau pun karena sebab lain.

Hal seperti inilah yang tidak ingin dihadapi oleh atlet renang nasional, Patricia Yosita Hapsari. Perenang cantik kelahiran  Jakarta 30 Juli 19931 ini akan melanjutkan pendidikannya di  California Baptist University (CBU) di Riverside, Amerika.

"Saya akan berangkat 24 Desember ini. Sementara kegiatan perkuliahan akan dimulai pada 7 Januari mendatang," kata Yosita, Sabtu (22/12) lalu. Padahal Yosita baru saja kembali ke Jakarta setelah memperkuat Indonesia di ASEAN UNiversity Games di Vientiane, Laos. Di ajang ini ia menyumbangkan  4 emas, 1 perak dan 2 perunggu.

Di Amerika Serikat,  Yosita akan mengambil jurusan Kinesiology yang mempelajari sports science dan anatomi tubuh mansuia. "Saya melihat di  Singapura, ada ahli yang membantu atlet renang mereka dengan mengetahui kondisi otot dan memaksimalkan kerjanya secara ilimiah. Ternyata mereka mempelajari khusus bidang ini," kata Yosita lagi.

Jika lancar, ia berharap akan menyelesaikan pendidikannya dalam 4 tahun. "Kalau memang harus melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi, mengapa tidak?" kata lulusan SMA Don Bosco, Padang ini.

Keinginan Yosita untuk melanjutkan pendidikan usai SMA  difasilitasi pelatih Yosita selama di Jakarta, Felix dan Albert Sutanto. Adalah Felix yang menginformasikan adanya beasiswa yang diberikan California Baptist University (CBU)  untuk atlet renang berprestasi. Kebetulan, mantan pelatih nasional Lisa Siregar menjadi asisten pelatih kepala di CBU.

Karena memperoleh beasiswa dari CBU, Yosita dibebaskan dari  tuition fee sebesar 28 ribu dolar AS. "Ini termasuk akomodasi dan makan. Namun di luar  biaya untuk beli buku atau bacaan kuliah lainnya,"kata Yosita .

Untuk kebutuhan tersebut atau kebutuhan harian lainnya, ia mendapat bantuan beasiswa unggulan" dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebesar 12 ribu dolar AS per tahun. ""Beasiswa unggulan dari Kemendikbud ini  diberikan kepada siswa berprestasi dari segala bidang, bukan hanya olah raga," kata Yosita lagi.

Fasilitas beasiswa unggulan"" ini masih sedikit diamanfaatkan oleh atlet-atlet nasional mau pun daerah yang berprestasi. "Biasanya yang mendapat fasilitas ini tidak memberi tahu yang lainnya," ungklp Yosita. Untung saja ia mendapat informasi ini dari Sekretaris Umum Pengprov DKI, NUrsyamsu yang puterinya -mantan atlet Zasa Pinkan- juga mendapatkan fasilitas ini. "Ternyata prosesnya sangat mudah dan cepat."

Namun di Amerika, tuntutan buat puteri pasangan Yusuf Sudaryanto dan Damiana Danita ini bukan sekadar prestasi akademik. Ia juga dituntut  meningkatkan kemampuannya sebagai atlet renang nasional. Untungnya,  di sana ia juga akan ditangani oleh mantan pelatih renang Nasional, Lisa Siregar. "Pelatih kepalanya Rick Rowland, sementara Tante Lisa sebagai asisten pelatih kepala," katanya.

Di Amerika, dengan catatan waktunya sebagai atlet nasional Indonesia, Yosita masuk dalam kompetisi Divisi II National Collegiate Athletic Association (NCAA). "Sebagai perbandingan, perenang nasional AS, Missy Franklin masuk di divisi I," kata Yosita. Ia akan bersaing dengan perenang-perenang wakil-wakil perguruan tinggi AS.

Menurut Yosita, Januari-Februari merupakan jadwal padat buat kompetisi renang NCAA. "Di Januari ada dua  jadwal lomba. Sementara Februari ada tiga."

Untung saja dia sudah terbiasa menjalani jadwal latihan yang padat dan berat selama di Indonesia. "Di sana saya berlatih lima hari dalam sepekan. Pagi dua jam dan sore dua jam. Belum ditambah latihan fisik di gym."

Meski tinggal di Amerika, Yosita berharap tetap dapat membela Indonesia di ajang-ajang internasional. Ia bahkan berharap akan mampu tampil di Olmp[iade Rio De Janeiro 2016 mendatang. "Berat memang, tetapi ini tetap masuk target hidup saya."

Nama Yosita memang masuk dalam tim pelatnas Indonesia ke SEA Games Myanmar 2013 mendatang. Hanya ia masih bingung soal pengaturan waktunya. "SEA Games kali ini berlangsung Desember, bersamaan dengan exam atau ujian.  Saya serahkan kepada tante Lisa (siregar) Saja soal ini.  Saya sih optimistis saja, karena orang Amerika -termasuk institusi pendidikan- katanya sangat memandang tinggi orang atau atlet yang bertanding membela negaranya." (Kompas.com) 

PON XVIII: Sumbar Berharap Pada Yosita

Patricia Yosita Hapsari

PEKANBARU, RENANG INDONESIA - Kontingen Sumatera Barat berharap merebut medali emas pertama PON XVIII Riau melalui perenang cantik, Patricia Yosita Hapsari.

Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Sumatera Barat Syahrial Bakhtiar optimistis cabang renang akan menyumbang medali emas pertama kontingen Ranah Minang."Dari beberapa cabang ungggulan Sumbar, kita yakin renang akan menjadi penyumbang medali emas pertama kontingen," katanya di Pekanbaru, Sabtu.

 Ia menyebutkan, atlet yang akan menjadi tumpuan Sumbar untuk meraih medali emas renang tersebut adalah Patricia Yosita Hapsari, lewat nomor 100 meter gaya bebas putri dan 200 meter gaya ganti perorangan.

Dijelasknnya, pada cabang renang kepastian nomor final tersebut akan diketahui pada hari Minggu (9/9) karena pada Minggu paginya, dua nomor itu sudah melakukan babak penyisihan. "Jadi hasilnya sudah bisa diketahui pada Minggu malam," katanya.

Keyakinan untuk bisa meraih medali emas dari Yosita katanya, karena melihat catatan waktu yang dihasilkan atlet tersebut selama menjalani pemusatan dan latihan di Jakarta. Selain itu, pada dua nomor tersebut juga merupakan nomor unggulan dan menjadi andalan atlet binaan Felix C Sutanto itu.
   
Pengurus PRSI Sumbar, Astronel menyebutkan hasil pertandingan terakhir Yosita Hapsari mampu tampil lebih baik dibanding pesaing terdekatnya, Eni Sulistiyowati yang berasal dari Jawa Timur. "Kami berharap pada ajang PON ini, Yosita dapat mempertahankan keunggulannya atas Eni yang selama ini sulit dilewati Yosita," harap Astronel.

Pada PON XVIII 2012 di Riau, cabang renang Sumbar menargetkan membawa pulang dua medali emas. (Kompas.com) 

Ibunda Siman: Kalau Tidak Mau, Jangan Dipaksa

I Gede Siman S (tengah)

JAKARTA, RENANG INDONESIA — Ni Made Srikarmini, ibunda perenang nasional I Gede Siman Sudartawa, menyerahkan sepenuhnya kepada anaknya apakah akan kembali ke Bali atau membela daerah lainnya.

"Saya sih terserah Siman saja. Dia sudah bisa memutuskan yang terbaik buat dirinya. Saya tidak menolak, tetapi kalau Bali-nya tidak mau, masak dia harus meminta-minta?" kata Srikarmini kepadaKompas.com, Jumat (21/12/2012).

KONI Bali melalui Sekretaris Umum Nengah Madiadnyana menegaskan akan menolak bila I Gede Siman Sudartawa berniat kembali ke Bali setelah kontraknya habis dengan Pengprov Riau. "Kami menolak dengan tegas, jika Gede Siman Sudartawa ingin menjadi atlet renang di Bali setelah habis masa kontraknya dengan Riau," kata Sekretaris Umum KONI Bali, Nengah Madiadnyana, di Denpasar, Kamis (20/12/2012).

Gede Siman lahir di Klungkung, Bali, pada 8 September 1994. Saat ini ia dianggap sebagai satu atlet renang terbaik Indonesia dengan prestasi meraih empat medali emas di SEA Games 2011 dan mewakili Indonesia di ajang Olimpiade London, Agustus lalu.

Srikarmini yang tinggal di Klungkung, Bali, mengetahui tentang "penolakan" ini melalui surat kabar lokal, Jumat (21/12/2012). "Selama ini tidak pernah ada orang yang menghubungi Siman. Anak saya itu selalu bercerita kepada saya, siapa saja yang menghubungi dia. Wartawan sekalipun," kata Srikarmini.

Ia juga belum mendengar dari Siman bahwa kontraknya sebagai perenang Riau tak lagi diperpanjang. Ungkapan "melepas" Siman dari Riau ini diungkap oleh Plt Ketua Umum KONI Riau Yuherman Yusuf saat berkunjung ke Denpasar. "Makin cepat Siman keluar dari Riau semakin bagus," kata Yuherman seperti dikutip Antara. Menurutnya, kehadiran Siman di Riau menimbulkan kecemburuan atlet lokal.

"Lho, permintaan agar Siman memperkuat Riau itu kan datang dari mereka (Riau). Mereka datang ke saya dan meminta saat Siman bertanding di Popnas di Yogyakarta," katanya.
Menurutnya pula, bonus peraihan medali PON XVI/Riau belum diterima Siman. "Sebenarnya diserahkan pada 14 Desember lalu, tetapi pada 13 Desember Siman harus ke Laos untuk ASEAN University Games," katanya.

Srikarmini membantah ketika dikatakan putranya bersama I Ketut Sudartawa itu bertindak seperti "kacang lupa pada kulitnya" dengan melupakan daerah asal. "Lho, kalau Siman datang ke sini, ia selalu memenuhi permintaan untuk sekadar berkunjung atau memberi  motivasi atlet renang di bekas klubnya atau di klub-klub lainnya," kata Srikarmini. "Terkadang dia sendiri yang ingin datang berkunjung."
Ia juga heran, mengapa justru banyak orang ribut ketika prestasi Siman sudah tinggi. "Saya tidak ingin membesarkan masalah ini, tetapi saya ini membesarkan Siman bukan tanpa pengorbanan. Ketika kecil, saya lihat dia senang, mampu, dan disiplin, jadi kami mendukungnya. Sampai menjual tanah untuk biaya dia ikut segala macam kejuaraan di Indonesia," katanya.

Untuk segala biaya perjalanan karier Siman hingga mencapai prestasi tersebut, keluarga Sudartawa tidak menerima bantuan dari Pengprov Bali atau mana pun. "Jadi, saya tidak pernah terikat apa pun sama daerah mana pun. Semua saya serahkan Siman, dia tahu mana yang terbaik."
Siman sendiri baru saja membela kontingen Indonesia di ajang ASEAN University Games di Vientiane, Laos, dan baru kembali pada 24 Desember. Januari 2013, Siman akan berlatih ke Australia sebagai persiapan menghadapi SEA Games Myanmar, Desember. (KOMPAS.com )

Bali Tolak Gede Siman

I Gede Siman SUdartawa

DENPASAR, RENANG INDONESIA - Insan olahraga terutama dari cabang renang menolak jika atlet andalan Indonesia, I Gede Siman Sudartawa, kembali ke Bali setelah kontraknya dengan Riau habis.

"Kami menolak dengan tegas, jika Gede Siman Sudartawa ingin menjadi atlet renang di Bali setelah habis masa kontraknya dengan Riau," kata Sekretaris Umum KONI Bali, Nengah Madiadnyana di Denpasar, Kamis (20/12/2012).

Gede Siman, yang lahir di Bali pada 8 September 1994, memiliki prestasi yang bagus. Salah satunya dalam SEA Games 2011 lalu, ketika meraih empat medali emas dari nomor spesialisasinya, gaya punggung. Tak heran jika dia menjadi rebutan daerah lain.

"Kalau ada daerah lain menginginkan I Gede Siman Sudartawa untuk memperkuat cabang renangnya silahkan saja, asalkan perpindahannya mengikuti prosedur sebagaimana sudah ditetapkan aturan di KONI Pusat, kata Madiadnyana.

Sementara itu KONI Riau merasa lega jika perenang kenamaan Indonesia itu hengkang dari daerahnya setelah habis kontrak. "Makin cepat Siman keluar dari Riau semakin bagus," ujar Plt Ketua Umum KONI Riau, Yuherman Yusuf.

Keluh kesah Yuherman itu dilontarkan di hadapan Ketua Umum KONI Bali Made Nariana saat berkunjung ke Denpasar. Dia menuturkan bahwa keberadaan Siman di Riau juga merupakan salah satu sebab kecemburuan dari atlet setempat.

Dia mengatakan, memang pernah ada telepon dari Surabaya yang mengaku akan meminta Siman untuk memperkuat atlet KONI Jawa Timur, dan saat itu dijawab masalah tersebut agar berurusan saja dengan KONI Riau.

"Saya siap melepasnya dengan segera," kata Yuherman, yang disambut ketawa dari yang hadir kala itu.

Sedangkan Ketua Umum KONI Bali dan Sekretarisnya dengan tegas menolak Siman memperkuat Bali. Hal itu diungkapkan karena Bali tidak akan mampu mengikuti keinginan atlet yang sedang naik daun tersebut, mengingat keuangan pemerintah daerah Bali yang hingga kini sangat terbatas untuk dana olahraga.

"Biarlah daerah lain yang lebih kaya bisa menampung atlet renang yang mampu menyumbangkan medali emas pada kejuaraan yang diikutinya dan Bali sendiri tidak akan menerima kembali sebagai atlet," ujar Madiadnyana, pembina PRSI Bali. (Kompas.com )

Rabu, 19 Desember 2012

POM ASEAN: Bintang Renang PON Berjaya di POM ASEAN


RENANG INDONESIA. Indonesia beruntung memiliki perenang muda sekelas Triadi Fauzi. Setelah sukses merajai kolam renang Pekan Olah raga Nasional (PON) 2012, Triadi kemudian melanjutkan keperkasaannya di kolam renang Pekan Olah Raga Mahasiswa (POM) ASEAN 2012.
Dalam pertandingan renang POM ASEAN yang berlangsung di Vientiane, Laos, Rabu (19/12), Triadi menyumbangkan dua medali emas bagi Indonesia.

Emas pertama Triadi diraih pada nomor 100 meter gaya kupu-kupu putra dengan catatan waktu 55.25 detik. Medali Perak dan perunggu diraih perenang Thailand dan Malaysia.

Sementara emas kedua Triadi berasal dari nomor 50 meter gaya bebas putra. Perenang yang meraih tujuh keping emas di PON 2012 itu  mencatat waktu 23.23 detik yang merupakan rekor baru POM ASEAN. Perak dan perunggu jatuh ke perenang Malaysia dan Thailand.

Tambahan dua medali emas Triadi mendongkrak posisi Indonesia ke urutan ketiga klasemen sementara perolehan medali sekaligus menggeser posisi Thailand.

Indonesia mengumpulkan 37 medali emas, 46 perak, dan 53 perunggu. Sementara Malaysia berada di diurutan teratas dengan  56-42-62 dan Vietnam di tempat kedua dengan 55-35-28.

Aquatics(Swimming and Diving) Medals
No
Country
G
B
B
Total
1
  Malaysia
20
9
4
33
2
  Indonesia
9
13
16
38
3
  Thailand
4
9
7
20
4
  Singapore
1
0
1
2
5
  Philippines
0
3
5
8
6
  Lao PDR
0
0
1
1
Total
34
34
34
102

Aquatics (Diving) Medal
No
Country
G
S
B
Total
1
 Malaysia
4
2
0
6
2
 Indonesia
0
2
2
4
3
 Lao PDR
0
0
1
1
4
 Philippines
0
0
1
1
Total
4
4
4
12


  Aquatics (Swimming) Medal
No
Country



Total
1
 Malaysia
21
9
7
37
2
 Indonesia
14
15
16
45
3
 Thailand
4
11
12
27
4
 Singapore
1
0
1
2
5
  Philippines
0
5
5
10
Total
40
40
41
121




Ryan Lochte "Buang" Medali Emas


ISTANBUL. RENANG INDONESIA - Perenang AS, Ryan Lochte memecahkan rekor dunia 200 meter gaya ganti di kejuaraan dunia kolam pendek di Turki, namun menyerahkan medali emasnya kepada penggemarnya.

Perenang asal New York berusia 28 tahun ini mencatat waktu 1 menit 49.63 detik dalam lomba yang berlangsung di Sinan Erdem Arena, Jumat. Rekor sebelumnya atas namanya sendiri 1:50.08 yang dibuat di Dubai, Desember 2010.

Sebelumnya ia telah mendapatkan medali emas di  nomor 200 meter gaya bebas, 4x100 meter dan 4x200 meter estafet gaya bebas.

Namun secara mengejutkan, Lochte menghadiahkan medali emas yang baru diraihnya kepada seorang anak berusia 10 tahun yang dengan sabar menunggu untuk mendapatkan tandatangan Lochte.

"Saya memberikannya. Alasannya, saya berlomba karena mereka, para penggemar.  Jadi saya hanya mengembalikannya kepada mereka," kata Lochte. ia telah mengum;pulkan 27 medali kejuaraan renang kolam pendek, termasuk 18 medali emas.

"Jika saya menyimpannya, saya akan mengabaikannya. Jika saya memberikan kepada mereka, medali itu akan disimpan dengan rapih. Mereka akan sangat senang dan senyum mereka adalah sangat berarti buat saya," kata Lochte. (Kompas.com) 

Lochte (USA) makes history with 8 medals in Istanbul

women's 50m free

RENANG INDONESIA, For the fourth consecutive edition of the FINA World Swimming Championships (25m), Ryan Lochte (USA) is the winner of the FINA Trophy for best male swimmer, earning an unprecedented eight medals in Istanbul! The swimming superstar already made history two years ago in Dubai (UAE) with seven podium appearances, but this time in the Turkish metropolis, he did even better with an even more impressive roll of honour: 1st 200m Free, 1st 4x100m free, 3rd 100m fly, 1st 4x200m free, 1st 200m IM, 2nd 200m back, 1st 100m IM, and 1st 4x100m medley.

Lochte has now an accumulated total of 30 medals at these championships since his first appearance in Indianapolis in 2004. Moreover, the 11-time medallist at the Olympics was the only swimmer to establish new World Records in Istanbul: firstly in the final of the 200m IM (1:49.63) and then in the semi-finals of the 100m IM (50.71). Lochte's performances decisively helped USA clinch the title for Best scoring team in Istanbul.
"My overall performance this week was decent, I had a couple of World records and it was an honour. I'm glad I was able to step up for the team. I always feel I can do better", said Lochte after the event.
Looking ahead, the U.S. champion added: "After the Olympics, I took a two-and-a-half-month break, this was the longest break ever since I was 8 years old. My biggest goal is Rio 2016." And continued: "I push my body to limits where other athletes are afraid to go to."

His last word went to his family and fans: "The fans are incredible, they brought me where I am today. I love kids because I am a big kid too. I have to be thankful for my family, they're my biggest supporters. I'm also thankful for my fans, they've given me so much love, especially at this meet."

Hungary’s Katinka Hosszu was awarded the FINA Trophy for Best female swimmer. She earned five medals in the five-day competition: 1st 200m fly, 3rd 400m IM, 1st 100m IM, 2nd 200m IM, and 2nd 200m free. The winner of the 2012 FINA/ARENA Swimming World Cup demonstrated her immense versatility in the pool, ending in the best possible way a fabulous 25m season.
"It feels awesome to be the Champion of the meet. I'm proud that Hungary won so many medals at this competition", said Hosszu.
Besides these two major stars, other athletes also shined in Istanbul. With three or more appearances in the podium, the following swimmers are worth mentioning:

MEN
Paul BIEDERMANN (GER) – 2nd 200m free, 3rd 4x200m free, 1st 400m free
Laszlo CSEH (HUN) – 2nd 400m IM, 3rd 200m IM, 2nd 200m fly
Stanislav DONETS (RUS) – 2nd 100m back, 3rd 50m back, 2nd 4x100m medley
Tommaso D’ORSOGNA (AUS) – 3rd 4x100m free, 2nd 4x200m free, 2nd 100m free, 3rd 4x100m medley
Matt GREVERS (USA) – 1st 4x100m free, 1st 100m back, 2nd 50m back, 1st 4x100m medley
Robert HURLEY (AUS) – 2nd 4x200m free, 1st 50m back, 3rd 4x100m medley
Vladimir MOROZOV (RUS) – 1st 50m free, 1st 100m free, 2nd 4x100m medley
Thomas SHIELDS (USA) – 2nd 100m fly, 3rd 50m fly, 1st 4x100m medley
Kenneth TO (AUS) – 3rd 4x100m free, 2nd 100m IM, 3rd 4x100m medley

WOMEN
Ruta MEILUTYTE (LTU) – 1st 50m breast, 2nd 100m IM, 1st 100m breast
Mie NIELSEN (DEN) – 2nd 100m back, 1st 4x100m medley, 3rd 4x100m free
Jeanette OTTESEN (DEN) – 3rd 50m fly, 1st 4x100m medley, 3rd 4x100m free, 3rd 50m free
Rikke PEDERSEN (DEN) – 1st 4x100m medley, 3rd 100m breast, 1st 200m breast
Megan ROMANO (USA) – 1st 4x200m free, 2nd 100m free, 3rd 4x100m medley, 1st 4x100m free
Allison SCHMITT (USA) – 1st 4x200m free, 1st 4x100m free, 1st 200m free
Olivia SMOLIGA (USA) – 1st 100m back, 3rd 4x100m medley, 2nd 50m back

In Istanbul, many remarkable performance were achieved and besides Lochte's two WR, 18 Championships Records were set (11 among women, seven in the men’s field).

Topping the medal table, USA, clearly dominating the operations with a total 27 awards (11 gold, 8 silver and 8 bronze). The top-5 still includes China (3+5+3), Hungary (3+4+3), Denmark (3+2+5) and Russia (2+3+4). In this group, the major revelation came from Denmark, present in Istanbul with a very strong and successful team. Never before had the Nordic country such success at short-course Worlds.

25 countries had athletes with medals – only the 2002 edition in Moscow (RUS) had been more prolific, with 26 nations. Moreover, four new National Federations sent their first swimmer to the podium: Lithuania, with new breaststroke queen Ruta Meilutyte; Jamaica, and the excellent Alia Atkinson (two silver medals in the women’s 50m and 100m breast); Faroe Islands – bronze medal of Pal Joensen in the men’s 1500m free; and Trinidad and Tobago, thanks to the bronze medal of George Bovell in the men’s 100m IM. 

"It is definitely a special moment for Trinidad and Tobago, after all these years I finally got my first medal at a World Championships. I was nervous, it's been a long season with the Olympics, I was not in great shape coming to this meet so I'm very pleased with this medal", considered Bovell.

Day 5 – Finals

The last day of competition in Istanbul included 12 finals and produced three new Championships Records: in the men’s 200m butterfly, Kazuya Kaneda (JPN) concluded a very successful season with a gold medal in 1:51.01 (the previous best mark of the meet, 1:51.05, had been set by Moss Burmester from New Zealand in 2008); in the women’s 200m breaststroke, Rikke Pedersen was one of the three champions for Denmark, getting the World crown in 2:16.08 (improving the 2:16.39 effort from U.S. Rebecca Soni in 2010).
“This gold is awesome, is everything to me. It’s my first gold at a World championships, I’m a world champion!” said an ecstatic Pedersen.
On what the key to her win was: “Just to be brave and aggressive and to think that I could be the first. I told myself to risk it all. To trust myself and all the work I’ve done”.

Finally, in the women’s 50m backstroke, Jing Zhao (CHN) improved her own mark from the semis (26.11), touching first for gold in 25.95. “Today I’m over the moon. Since I stopped using the textile swimming suit, this is my personal best. The opponents were very strong. I was very nervous before the race, maybe that’s how I beat them”, Zhao said.

The other highlights of the session were the victory of Vladimir Morozov (RUS) in the men’s 100m free. He also won the 50m free, confirming his status of short-course king of freestyle sprint events.

"My plan was to break my best time and it is already improved by 1.7 seconds since last year. I'm pretty happy with the race. I tried to begin very fast, but I think it was a bit too fast, so I was not able to speed up in the last metres”, stated Morozov.

Radoslaw Kawecki (POL) won the duel with Ryan Lochte in the men’s 200m back – in a thrilling final, Kawecki beat the North American by only 0.02 (1:48.48 against Lochte’s 1:48.50).

Ilaria Bianchi gave a second World short-course title for Italy after being the fastest in the women’s 100m butterfly, defeating 2008 Olympic champion in the 200m, China’s Zige Liu.

"My first medal at short-course World Championships. I'm so proud to be the first Italian woman since Federica Pellegrini to win a gold medal at these Worlds!" said Bianchi after the race. On her feelings coming into the race: “I’ve been thinking about the race all day, it is the first time I’ve been really nervous before a race”.
On her recent improvements: “This year it’s been an escalation, I found what I needed in terms of training. I’ve reached perfection on both the physical and psychological levels. I feel I’m doing what I really need”.
Bianchi’s effort could not be replicated by her compatriot Gregorio Paltrinieri in the men’s 1500m free – after a very close race, Mads Glaesner from Denmark touched home in 14:30.01 while the Italian was second in 14:31.13.

“I was hoping for a medal. I knew it was going to be painful and it was. I tried to stick to Gregorio (Paltrinieri) and it worked”, recalled Glaesner on his race.

On the performance of the Danish swimmers in Istanbul: “The (2012) Olympic Games were disappointing for us, so it’s good we are doing so great here”, he concluded.

Aliaksandra Herasimenia (BLR) overcame a strong field to impose herself in the women’s 50m free (23.64). Britta Steffen (GER), winner of the 100m free, missed the podium (fourth, in 24.04) while Aleksander Hetland (NOR) narrowly beat his main challengers in the men’s 50m breaststroke.

The winner from Norway concluded in 26.30, 0.02 faster than silver medallist Damir Dugonjic from Slovenia and 0.03 ahead of Florent Manaudou from France (bronze in 26.33).
Finally, the last three wins for the USA came from Ryan Lochte in the men’s 100m IM touching in 51.21, from Allison Schmitt in the women’s 200m free (swimming in lane 1, she triumphed in 1:53.59), and from the quartet in the men’s 4x100m medley relay, where Lochte got his last medal of the Championships.

Bye bye Istanbul, over to you Doha!

FINA President Dr. Julio C. Maglione highlighted the success of the FINA World Swimming Championships (25m) in Istanbul and handed over the FINA flag to the next organisers of the competition, the city of Doha in Qatar.

In the closing ceremony at the Sinan Erdem arena Mr Ali Al Jabir, Assistant Dırector of the Qatar Swimming Association received the flag on behalf of Doha 2014. In his short speech, Mr. Al Jabir thanked Istanbul for hosting a successful event and went on to say: “It is with great pride and honour to accept this responsibility to organise the 12th FINA World Swimming Championships (25m). The hosting of this unique event in close collaboration wıth FINA and with the support of the Qatar Olympic Committee, will be a key milestone to the development and promotion of the sport of swimming”.

Before that, the FINA President considered: “The FINA Family lived an unforgettable competition, highlighted by many remarkable performances. Confirmed stars and new revelations have demonstrated the vitality and progress of Swimming in the five continents. This success is mostly due to the hard work of our 202 National Federations worldwide. They all deserve our gratitude and appreciation!”. Dr. Maglione concluded by saying: “Many countries were represented at the medal’s table of these championships, and some new nations had the opportunity to shine at the highest level. Swimming is developing fast, attracting more youth and generating an increased number of stars in the five continents. This is fundamental for the improvement of the value and image of FINA and its aquatic sports worldwide”.